Khotbah Kristen HUT (Bacaan: Ulangan 33:24-29

EKSPEKTASI




Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan.
      Pada suatu ketika adalah tiga buah pohon yang tumbuh di lereng suatu bukit. Mereka membicarakan harapan dan impian mereka. Pohon yang pertama berkata, “Saya berharap saya akan menjadi suatu kotak harta yang berharga. Saya akan diisi dengan emas, perak dan barang berharga lainnya. Saya akan diukir dengan indah dan setiap orang dapat melihat keindahan saya.” Kemudian pohon kedua berkata: “Pada suatu ketika saya akan menjadi sebuah kapal yang perkasa. Saya akan membawa para raja dan ratu mengarungi samudera dan berlayar ke ujung dunia. Setiap orang akan merasa aman di dalam diri saya.” Akhirnya pohon yang ketiga berkata, “Saya ingin tumbuh menjadi pohon yang paling tinggi dan paling tegak di daerah ini. Orang dapat melihat saya di puncak sebuah bukit dan melihat ke cabang-cabang saya, dan berpikir betapa dekatnya saya dengan sorga dan Tuhan hingga bisa meraihnya. Saya akan menjadi pohon yang terbesar sepanjang zaman dan orang akan selalu ingat akan saya.” 
       Setelah beberapa tahun mereka berdoa agar impiannya menjadi kenyataan, sekelompok penebang kayu datang ke situ. Ketika salah seorang penebang kayu datang ke pohon yang pertama ia berkata, “Ini tampaknya pohon yang kuat, saya kira saya dapat menjual kayunya pada seorang tukang kayu”. Ia pun mulai menebang pohon itu. Pohon itu merasa bahagia, karena ia merasa tukang kayu itu akan membuatnya menjadi kotak harta yang berharga. Pada pohon kedua salah seorang penebang kayu berkata, “Ini tampaknya pohon yang kuat, saya tentu bisa menjualnya pada seorang tukang pembuat kapal.” Pohon kedua juga merasa bahagia karena dengan cara itu ia mengira akan menjadi kapal yang perkasa. Ketika penebang kayu itu sampai ke pohon yang ketiga, pohon itu merasa cemas karena kalau ia ditebang maka impiannya tak akan menjadi kenyataan. Salah seorang tukang kayu berkata, “Saya tidak memerlukan hal-hal istimewa pada pohon saya, maka saya akan ambil saja pohon ini,” ia pun menebangnya. Ketika pohon pertama tiba di tempat tukang kayu, tukang kayu itu membuatnya menjadi kotak makanan untuk hewan. Ia menaruhnya di sebuah kandang dan mengisinya dengan jerami. Pohon tu kecewa, ini sama sekali bukan hal yang dimohonnya dalam doa. Pohon kedua dipotong-potong dan dijadikan sebuah perahu nelayan yang kecil. Impiannya untuk menjadi sebuah kapal yang perkasa yang membawa para raja haruslah berakhir. Pohon ketiga dipotong menjadi potongan-potongan yang besar dan ditinggalkan dalam kegelapan.

Tahun-tahun pun berlalu, dan pohon-pohon itu sudah melupakan impian mereka. Pada suatu hari, seorang laki-laki dan perempuan masuk ke kandang dan meletakkan seorang bayi di atas jerami dalam kotak makanan yang dibuat dari pohon yang pertama. Orang laki-laki itu hendak membuat sebuah tempat tidur bayi dan palungan itu cocok untuk itu. Pohon itu pun dapat merasakan pentingnya peristiwa itu dan tahu bahwa ia pernah digunakan untuk menaruh sesuatu yang paling mulia sepanjang segala zaman. Beberapa tahun kemudian, sekelompok orang menumpang kapal nelayan yang dibuat dari pohon yang kedua. Salah seorang di antaranya lelah dan tertidur. Ketika mereka sedang berada di tengah danau, mereka diterjang badai dan pohon itu merasa tidak cukup kuat melindungi orang-orang itu. Orang-orang itu membangunkan orang yang tertidur itu, dan Ia berdiri dan berkata, “Tenanglah” dan badai pun berhenti. Pada saat itu juga tahulah pohon itu bahwa ia telah membawa Raja dari segala raja di perahu itu. Akhirnya, datanglah seorang yang mengambil pohon yang ketiga. Kayu itu dibawa sepanjang jalan oleh seorang dan orang-orang mengolok-olok orang yang membawa kayu itu. Ketika sampai di tujuan, orang itu dipaku pada pohon itu, ditegakkan dan Ia mati di puncak bukit. Ketika Minggu tiba, pohon itu menyadari bahwa ia cukup kuat berdiri di atas bukit itu dan berada sangat dekat dengan Tuhan, karena Yesus telah disalibkan di pohon itu.
Moral dari cerita ini adalah kita terkadang sebagai manusia selalu mendambakan berkat yang diberikan Tuhan harus seturut dengan kehendak kita. Dan ketika hal itu tidak seperti apa yang kita bayangkan maka jatuhlah kita pada kekecewaan. Tetapi harus kita sadari bahwa Allah bekerja dengan cara yang kita tidak ketahui. Seperti cerita 3 pohon ini. Ketika saatnya tiba maka kita akan menyadari bahwa “oh ternyata dengan cara ini Allah memberikan berkat kepada kita. Hal itu terkadang tidak terlihat pada satu dua hari kehidupan kita, tetapi dalam seluruh proses kehidupan kita. 
Kitab Ulangan adalah kitab yang secara tradisional Musa dipandang sebagai penulis kitab ini. Kitab Ulangan disajikan sebagai perkataan-perkataan terakhir Musa kepada generasi Israel yang siap memasuki tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Allah.  Ada 2 maksud penulisan kitab Ulangan ini : Pertama, Israel bisa memakai pesan kitab Ulangan untuk menilai kesuksesan atau kegagalan mereka sebagai bangsa: mematuhi ketentuan-ketentuan dalam perjanjian Allah dengan Israel akan membuahkan keberhasilan; sebaliknya ketidaktaatan akan membuahkan kematian dan kehancuran. Kedua, dalam seluruh kitab itu berulang kali ditegaskan bahwa Allah telah memilih Israel karena kasihnya. Sebagai gantinya Israel seharusnya mengasihi Allah dan setia kepada ketentuan-ketentuan dalam perjanjian Allah dengan mereka. Pasal 33 ini berbicara dimana Musa memberkati kedua belas suku Israel. Kalau kita membaca keseluruhan pasal 33 maka kita akan melihat berkat yang diberikan Allah melalui musa berbeda kepada setiap suku dari kedua belas suku Israel ini. Hal ini bukan karena Allah pilih kasih, Allah menganugerahkan berkat sesuai dengan apa yang diperlukan oleh suku-suku tersebut ketika mereka akan memasuki tanah perjanjian dan melanjutkan kehidupan dalam ketaatan kepada Tuhan. Ketika kita sebagai manusia mengalami hal seperti ini. Kita sering membandingkan apa yang dimiliki lebih oleh orang lain yang kita tidak miliki, kita seringkali bersungut atas hal tersebut. Tetapi sebenarnya ALLAH telah memberikan berkat sesuai karunia kita masing-masing agar kita mampu mengelolah berkat tersebut dalam kehidupan kita. Sehingga dalam seluruh kesatuan umat yang percaya karunia berkat itu akan saling memperlengkapi satu dengan yang lain.
Ayat yang ke-26 ……. Yesyurun adalah panggilan puitis untuk umat Israel. Yesyurun : Orang jujur atau tulus hati – Menggambarkan  bagaimana Allah secara aktif terus memperhatikan umatNya. Dan menegaskan bahwa Allah terus memperhatikan kita dalam segala kehidupan kita. Dari kesemua hal ini berkat yang paling harus kita syukuri dan imani adalah bahwa kita mempunyai Tuhan yang selalu menuntun dan membimbing kita dalam setiap langkah kehidupan kita dan tetap menjaga kita untuk berkat keselamatan yang telah dijanjikanNya.
   HUT yang ke……. Menjadi berkat Tuhan yang sangat berharga yang menandakan bahwa kiranya kita sendiri akan menjadi berkat bagi orang lain. Kepada kita masing-masing telah dianugerahkan berkat yang berbeda-beda sesuai dengan karunia yang diberikan Tuhan. Karunia-karunia itu mendatangkan berkat untuk kita masing-masing, supaya saling memperlengkapi satu dengan yang lainnya dalam satu keutuhan umat Allah.  Amin

Komentar