DIAKONIA
PENDAHULUAN
Di tengah jaman yang berkembang dan
yang berubah dengan cepat, demikian halnya Gereja hendaknya bergerak dinamis
aktif dan positif di bawah tuntunan Roh Kudus dengan visi dan misinya menuju
transformasi bumi ini sesuai kehendak Tuhan. Dalam konteks ini kita pahami
Koinonia, Marturia dan Diakonia merupakan Tri Tugas panggilan dan mendukung
hakekat-sejati Gereja yang kudus itu. Salah satu tugas gereja yang akan dibahas
dalam makalah ini adalah Diakonia.
Selain khotbah-khotbah atau
pemberitaan Injil yang gereja lakukan ataupun kesaksian dan pengajaran gereja,
maka perlu ada tindakan atau perbuatan yang selaras dengan apa yang selalu
disuarakan oleh gereja. Seperti ketika seorang pendeta berkhotbah tentang
kasih, maka haruslah dibarengi dengan suatu perbuatan atau tindakan “kasih”.
Memang
ada satu pengertian umum yang hidup di kalangan warga gereja mengenai Diakonia,
yaitu usaha mengumpulkan uang dan atau bahan pada waktu-waktu tertentu dan
membagi-bagikannya kepada orang miskin. Praktek diakonia yang demikian
seakan-akan telah membudaya yang ternyata masalah pokoknya tidak tersentuh
dengan hal tersebut.
Apa
sebenarnya Diakonia itu? Apakah tujuannya? Dan apa kata Alkitab tentang
Diakonia? Serta bagaimana diakonia yang dilakukan dalam jemaat. Hal-hal ini
tentunya akan diuraikan pada bagian-bagian berikutnya.
I.
KAJIAN TEORI MENGENAI DIAKONIA
A. Apa
Itu Diakonia
Salah
satu nas penting tentang diakonia dalam kitab-kitab Injil ialah Matius
22:34-40, yang memuat jawaban Yesus kepada orang-orang Farisi yang mau
mencobainya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap akal-budimu! Itulah hukum yang terutama dan
yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu ialah: Kasihilah
sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Pada kedua hukum inilah tergantung
seluruh hukum Taurat dan Kitab para nabi”. Dari jawaban Yesus nyata, bahwa
kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada manusia. Kasih
kepada Allah justru mau dinyatakan dalam kasih kepada sesama manusia. Dan
dinyatakan secara konkrit: bukan dalam perasaan dan dalam kata-kata, tetapi
dalam perbuatan kasih dan keadilan.
Perbuatan kasih dan keadilan ini –
yang Allah tugaskan kepada umat-Nya sebagai pelayanannya kepada sesamanya
manusia – dalam Perjanjian Baru disebut Diakonia (=pelayanan). Di situ kata ini
disebut bersama-sama dengan kata-kata lain yang berasal dari akar-kata yang
sama, yaitu “diakonein” (=melayani) dan “dianonos” (=pelayanan).[1]
Dalam Kisah Para Rasul kata “diakonia” mendapat suatu arti yang
spesifik. Dalam Pasal 6:1 dyb kita membaca tentang perjamuan (=makan dan minum)
bersama, seperti yang disebut dalam pasal 2:46. Di sini perjamuan bersama itu
disebut “pelayanan sehari-hari” (ayat
1) dan “pelayanan meja” (ayat 2)
untuk membedakannya dengan “pelayanan
firman” (ayat 4). Diakonia ini kita temui di beberapa tempat dalam Kisah
Para Rasul. Pertama-tama dalam pasal 11:39. Di situ membaca tentang “sumbangan uang” (=diakoni) yang
dikumpulkan oleh anggota-anggota Jemaat di Antiokhia untuk jemaat di Yudea.
Sesudah itu dalam pasal 12:35. Di situ kita membaca, bahwa Paulus dan Barnabas
kembali dari Yerusalem, sesudah mereka menyelesaikan “tugas” atau “pelayanan
kasih” (=diakoni) ini.
Kesaksian yang sama seperti di atas
kita juga temui dalam surat-surat para rasul. Beberapa nas diantaranya ialah
Roma 19:25 dan 31; I Korintus 8:14,17 dan 30; 9:1,12 dan 13. Dalam nas-nas ini
Rasul Paulus – dalam hubungannya dengan usaha yang ia organisir di beberapa
Jemaat untuk mengumpulkan bantuan uang bagi orang-orang percaya di Yerusalem –
menggunakan kata-kata “melayani” (=diakonein) dan “pelayanan” (=diakonia).
Kesimpulan apakah yang dapat kita
tarik dari kesaksian-kesaksian dalam Kisah Para Rasul dan dalam surat-surat
para rasul tentang “diakonia”? Jawabnya: Yang paling menonjol dalam
kesaksian-kesaksian itu ialah, bahwa dalam Kisah Para Rasul diakonia mempunyai arti yang spesifik
dari apa yang kita sebut pada waktu ini “pelayanan diakonia”, yaitu bantuan
kasih yang anggota-anggota Jemaat berikan kepada yang lain dan yang mereka
berikan kepada orang-orang lain untuk hidup mereka di dunia ini.[2]
Dari beberapa hal di atas terungkap
juga arti melayani sesama secara umum, yaitu sesama yang lebih rendah
kedudukannya (lih. Luk. 22:26,27). Mengenai para wanita yang mengikuti Yesus
dikatakan mereka melayani-Nya dengan harta benda (Luk. 8:3), sementara Matius
25:31-46 melukiskan pelayanan sebagai memberi makan dan minum, memberi pakaian
dan tumpangan, perawatan dan kunjungan orang sakit serta para tahanan yang
dilihat sebagai pelayanan bagi Tuhan Allah.
B. Jenis
Diakonia
Diakonia
merupakan pelayanan gereja kepada sesama yang membutuhkan pertolongan,
meliputi:
·
Diakonia Karitatif, yaitu jenis diakonia
yang memberi bantuan secara insendental dan tidak mengubah situasi masyarakat
secara struktural, misalnya memberikan sumbangan kepada orang-orang tak mampu,
memberikan sumbangan kepada korban bencana.
·
Diakonia Reformatif, adalah jenis diakonia
yang memberikan bantuan secara lebih berkesinambungan, mengarah pada perbaikan
kehidupan orang yang dibantu, misalnya pelatihan keterampilan kerja, bantuan
beasiswa pendidikan, menciptakan lapangan pekerjaan.
·
Diakonia Transformatif. Diakonia
Transformatif mengarah pada perubahan struktural dalam masyarakat, membongkar
sistem yang ada dan membuat sistem yang baru. Diakonia Transformatif, misalnya
dilakukan melalui gerakan protes terhadap ketidakadilan di tengah masyarakat,
mendampingi kelompok orang miskin sehingga mereka dapat keluar dari
kemiskinannya, memperjuangkan kesetaraan kedudukan perempuan dan laki-laki.[3]
C. Diakonia
Dalam Alkitab
Diakonia
dalam bahasa Ibrani ezer berarti
pertolongan, penolong (Kej. 2:18,20) yang setara dengan kata Yunani diakonia
yang berarti memberi pertolongan atau pelayanan. Diakonia dalam bahasa Ibrani
disebut syeret yang artinya melayani.[4] Istilah diakonia
sebenarnya sudah terlihat sejak Perjanjian Lama yang dalam kitab Kejadian jelas
dikatakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dari yang tidak ada menjadi
ada (Ex Nihilo) dan semua yang diciptakan Allah sungguh amat baik (Kej.
1:10-31). Allah juga membuktikan pemeliharaan-Nya secara khusus ditujukan pada
manusia yaitu sebagai pelayanan. Manusia sebagai wakil Allah untuk melayani-Nya
dalam mengurus Bumi dan isinya.
Perjumpaan
TUHAN Allah dengan Abram ditandai oleh TUHAN Allah berfirman kepada Abram untuk
“pergi ke negeri” yang akan ditunjukkan oleh Allah sendiri. Misinya adalah
untuk menjadi berkat (Kejadian 12:1-3). Sejak itu, dengan segala kekurangan dan
kelebihannya sebagai manusia, ia memberi diri untuk berjalan menuju visi yang
ditunjukkan oleh TUHAN Allah dengan menunaikan misi yang dipercayakan kepadanya
yaitu “diberkati untuk menjadi berkat bagi semua kaum di muka bumi.” Perjumpaan
TUHAN Allah dengan Abraham adalah juga di-maksudkan untuk menguji kesetiaan
Abraham pada TUHAN Allah dan dengan demikian pada visi dan misi yang
dipercayakan kepadanya. Itulah maksud dari perjumpaan TUHAN Allah dengan
Abraham di bukit Moria (22:1-10). Karena Abraham menunjukkan kesetiaannya maka
TUHAN Allah mempertegas kembali janji-janji-Nya untuk menyertai dan
memberkatinya dalam menunaikan misinya. Dalam cerita tentang Abraham kita
temukan juga bahwa misinya adalah menjadi berkat bagi semua kaum di muka bumi (Kejadian
12:3). Realisasi dari misi itu adalah bahwa Abram melibatkan diri dalam
pelbagai kegiatan mulai yang bersifat keagamaan, ekonomi dan bahkan politik
(Kejadian 14). Ini sangat menegaskan juga bahwa dimana Abraham melakukan
pelayanan kepada manusia sebagai ciptaan Allah sekaligus dia melakukan
pelayanan kepada Allah sendiri dengan menunaikan misinya untuk menjadi berkat
bagi sesamanya.
II.
DIAKONIA DI JEMAAT GENEZARETH PATETEN
a. Profil
Jemaat
Gereja
Genesareth adalah merupakan hasil pemekaran jemaat Nazaret Pateten. Gereja
Genezareth terletak di Kelurahan Pateten III (Tinombala) Kecamatan Maesa Kota
Bitung. Dari pusat kota Bitung dapat ditempuh dengan waktu 5 menit. Ketika
Kanisah berdiri maka jemaat GMIM Nazareth yang berdomisili di bagian Tinombala
mulai beribadah di Kanisah yang telah didirikan. Sementara yang melayani dalam
ibadah-ibadah pada hari minggu masih dilayani oleh pendeta dari jemaat GMIM
Nazareth. Jemaat Genezareth berdiri pada tanggal 1 Agustus 2004, dengan ketua
jemaat pertama adalah Pnt. Bpk Melki Lamangsiang. Pendeta yang pertama
ditempatkan di jemaat GMIM Genezareth adalah Ibu Pdt. Jein Mamesah, M.Th
(2005). Pada saat jemaat ini berdiri sudah terbentuk 12 Kolom. Pada tahun 2008
Pdt. Jein Mamesah Ditugaskan di Aermadidi dan pendeta yang menggantikan adalah
Pdt. Rudi Paat S.Th bersama istri Pdt. Jein Tampi, S.Th sebagai pendeta
pelayanan. Pendeta rudi yang ditempatkan di jemaat Genezareth ini diputuskan
untuk menjadi ketua jemaat. Dalam perjalanan kepelayanannya pendeta Rudi Paat
meninggal dunia pada tanggal 27 Maret 2012, sehingga digantikan oleh Pdt. Olvie
Kodoati, S.th pada tahun 2012. Pada tahun 2014 terjadi pemekaran dalam jemaat,
dari 12 kolom menjadi 13 kolom. Dan sampai pada saat ini Jemaat ini mempunyai
13 kolom dengan dua orang pendeta dan satu orang guru agama. Sesuai sensus
bulan Mei 2015 jumlah orang dalam jemaat GMIM Genezareth berjumlah 818 jiwa.
Anggota
jemaat GMIM Genezaret mempunyai pekerjaan yang berbeda-beda. Ada yang Pegawai
Negeri Sipil (PNS), militer, tukang bangunan, pelaut, nelayan, swasta, dan
lain-lain. Dapat dikatakan bahwa keadaan ekonomi jemaat Genezareth Pateten
rata-rata berada di kalangan ekonomi menengah.
b. Diakonia
Jemaat Genezareth Pateten
Dalam
jemaat ini ada dua jenis Diakonia yang sering dilakukan yaitu:
1. Diakonia
Karitatif
-
Memberikan diakonia pada waktu natal dan
hari-hari besar gerejawi
-
Diakonia orang sakit dan pada waktu ada
kedukaan
2. Diakonia
Reformatif
-
Berupa bantuan beasiswa pendidikan kepada
anak-anak yang kurang mampu. Hal ini dilakukan secara rutin setiap bulan dengan
dana yang telah ditentukan untuk diberikan kepada yang kurang mampu pada setiap
kolom.
Alasan
dan tujuan kenapa ada Diakonia ini dalam jemaat Genezareth yaitu, pertama untuk berbagi sukacita ataupun
kelebihan yang ada pada anggota jemaat yang kurang mampu; Kedua, membantu meringankan beban pada waktu mengalami peristiwa
duka; Ketiga, melihat adanya beberapa
anggota jemaat yang kurang mampu sehingga anak-anak mereka ada yang putus
sekolah dengan alasan kurangnya biaya untuk menyekolahkan anak-anak ini maka,
gereja pun memberikan bantuan beasiswa kepada anak-anak yang kurang mampu ini
secara khusus dari TK sampai SLTA[5]. Sehingga mereka boleh dan
dapat kembali untuk bersekolah. Inilah berbagai alasan dan tujuan adanya
diakonia dalam jemaat Genezareth Pateten.
III.
EVALUASI
Melihat
dari beberapa hal diatas dalam konteks kita sekarang dapat dikatakan bahwa
Diakonia secara umum dimengerti dengan memberikan bantuan berupa materi maupun
moril. Paling banyak dilakukan adalah Diakonia karitatif dan Diakonia
Reformatif sementara untuk Diakonia Transformatif masih sangat susah dilakukan
karena untuk jenis diakonia Transformatif ini masih banyak jemaat yang belum
paham[6].
[1] J.L.CH.Abineno, Diaken – Diakonia dan Diakonat Gereja,
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001, hal.2
[2] Ibid 1. Hal. 5, 8
[3] Rijnardus A. van Kooij, Sri Agus
Patnaningsih, Yam’ah Tsalatsa, Menguak
Fakta, Menata Karya Nyata, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008, hal.41
[4] A. Noordegraaf, Orientasi Diakonia
Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004, hlm. 2
[5] Wawancara dengan Penatua kolom 9.
[6] Wawancara dengan Syamas kolom 9.
Komentar
Posting Komentar