HUBUNGAN AGAMA DAN MASYARAKAT MENURUT KARL MARX
HUBUNGAN AGAMA DAN MASYARAKAT
MENURUT KARL MARX
Dengan melihat pentingnya kondisi materil dimana
individu harus menyesuaikan diri atas dasar ekonomi dalam arti kehidupan
manusia sangat bergantung pada tersedianya sumber-sumber ekonomi untuk kelangsungan
hidupnya, membuat Karl Marx memandang dasar ekonomi ini sebagai “infrastruktur”
di atas mana “superstruktur” sosial dan budaya yang lainnya dibangun dan harus
menyesuaikan diri dengannya.
Bagi Marx, kunci guna memahami realita sosial tidak
ditemukan dalam ide abstrak tapi dalam pabrik-pabrik atau tambang batu bara
dimana para pekerja menjalankan tugas yang diluar batas kemanusiaan dan berbahaya,
menghindarkan dari mata kelaparan; dalam kalangan penganggur untuk menemukan
harga dirinya sebagai manusia yang untuk menjual tenaga mereka dipasaran
ditentukan dari ketidak mampuan mereka dan ketegangan antara pemimpin kaum
proletar dan perwakilan kaum kapitalis yang dominan.
I.
RIWAYAT HIDUP MARX
Marx lahir di
Trier, Jerman di daerah Rhine pada tahun 1818. Ayahnya bernama Heinrich Marx
memperoleh pendidikan sekular, dan mencapai kehidupan borjuis yang mewah
sebagai pengacara sukses. Saat situasi politik tidak stabil dan tidak
menguntungkan sebagai pengacara dengan latar belakang sebagai orang Yahudi.
Pada umur 18 tahun
sekesai belajar hukum 1 tahun di Universitas Bonn, dia pindah ke Universitas
Berlin. Disana dia bergaul dengan kaum Hegelian muda yang kemudian mulai
membentuk dasar teori sosialnya. Mereka berpendirian kritis dan tidak
menghargai ide-ide Hegel dan pengikutnya, khususnya yang berkaitan tentang masa
depan serta pendapat yang mempertahankan budaya lama dimana Hegel dalam hal ini
menggunakan model analisa dialektik. Analisa ini berintikan pandangan
pertentangan antara tesis dan antithesis serta titik temu keduanya
yang membentuk sintesa baru yang
menjadi tesis baru dan turut memunculkan pula antithesis dan memunculkan satu
sintesa baru yang lebih tinggi. Namun hal ini merupakan suatu hal yang abstrak
dan sulit untuk mempertemukan dua hal yang jelas berbeda untuk dipersatukan.
Pandangan-pandangan
Hegel ini sifatnya idealisttik,
maksud pandangan model Hegel ini adalah ide-ide yang ada digantikan ide-ide
yang baru yang bertentangan namun ide-ide baru bukan ide-ide yang baru bukan
ide-ide yang terakhir yang juga akan ditolak. Dengan kata lain pemahaman ini
mencerminkan roh akal budi yang terus-menerus bertambah lengkap. Menanggapi
pandangan Hegel, pemahaman Marx sangat dipengaruhi pandangan kaum Hegelian
muda. Dalam mengembangkan posisi teoritis dan filosofisnya Marx tetap memakai
model analisa dialektik tapi dia menolak idealism filosofis dan menggantinya
dengan pendekatan model materialistik.
Setelah
menyelesaikan desertasi doktoralnya di Universitas di berlin dia ingin masuk
karir akademis, namun sponsornya Bruno Bauer dipecat dari Post-akademis oleh
karena pemahaman-pemahamannya yang menyimpang dan anti-agama. Dengan demikian
Marz menerima tawaran menulis surat kabar borjuis liberal, Rheinishe Zeitung yang menggambarkan oposisi borjuis terhadap
sisa-sisa sistem aristokratis-feodal kuno, selanjutnya dia menjadi pemimpin
redaksi. Dalam pemahaman sosialnya yang kian bertambah Marx memilih
memperjuangkan gerakan-gerakan petani dan orang miskin. Oleh karena ditekan
kaum kapitalis setelah menikah dengan Jenny von Westphalen mereka pindah ke
Paris.
Selama di Paris
(1843-1845) Marx ikut kegiatan radikal. Pada waktu itu Paris merupakan pusat
liberalisme dan radikalisme sosial dan intelektual yang penting di Eropa. Marx
bertemu dan kenal para pemikir sosialis Perancis, termasuk St. Simon dan
Proudhon dan para tokoh revolusioner seperti Blanqui. Tanggapan Marx atas
ide-ide ini dipengaruhi dalam hubungannya dengan kaum Hegelian muda yang pada
akhirnya membuat dia menolak asumsi untuk menghilangkan penyalahgunaan sistem
kapitalis perlu dukungan elit intelektual. Oleh karena pendekatan ini mengabaikan
kondisi-kondisi sosial dan materil yang sebenarnya dan taraf kesadaran
kelas-kelas buruh.
Dengan melihat
kenyataan ekonomi yang terjadi Marx mengambil isu individualism yang dengan
pendekatan ini mengesampingkan hakikat sosial manusia. Peristiwa yang
menentukan saat Marx bertemu dengan Friedrich Engels dan mereka bekerjasama.
Engels terkesan atas keberhasilan Marx lewat analisa ekonominya juga bacaan
Marx tentang tulisan ahli ekonomi politik Inggris, yang mendorongnya ke usaha
mengintegrasikan analisa ekonomi dan filsafat.
Selain itu selama
di Paris mereka juga memulai karya tentang suatu intepretasi komprehensif
tentang perubahan dan perkembangan sejarah sebagai alternatif terhadap
interpretasi komprehensif tentang perubahan dan perkembangan sejarah sebagai
alternatif terhadap interpretasi Hegel mengenai sejarah. Interpretasi mereka
merupakan dasar perkembangan intelektual atau kekuatan mendorong perubahan
sejarah bukan munculnya ide atau pertumbuhan akal budi. Merasa terganggu dengan
tulisan-tulisan Marx yang berbau sosialis tahun 1845 pemerintah Paris mengusir
Marx. Dari Paris Marx pergi menuju Brussel dan disana dia terlibat dengan
kegiatan-kegiatan sosialis internasional di sana berhubungan dengan buruh-buruh
dan kaum cendekiawan yang merupakan pelarian Jerman. Tahun 1846 Marx dan Engels
ke Inggris dan kemudian membentuk panitia urusan surat-menyurat untuk tetap
menjaga komunikasi dengan kaum sosialis Perancis, Jerman dan Inggris. Marx
ditugaskan untuk menulis suatu pernyataan yang akan menjadi program teoritis
untuk organisasi itu, hasilnya berupa Manifesto
Komunis diterbitkan tahun 1847 namun dalam karyanya ini diikuti dengan
kegagalannya menerbitkan bukunya Economic
and Philosopical Manuscripts, menggambarkan pemahamannya yang berat
sebelah.
Tahun 1848 Marx
diundang lagi balik ke Paris ke Paris oleh pemerintahan baru. Masa-masa itu
pergolakan, karena banyak gerakan revolusioner yang dengan cepat mendapat
sambutan diseluruh Eropa. Perubahan sosial yang mendasar awalnya terjadi di
Perancis 1789. Baik serangan 1789 dan tahun 1848 atas dominasi aristokratis
tradisional dipelopori oleh munculnya kelas borjuis namun revolusi-revolusi
tahun 1848 diikuti oleh orang-orang kelas buruh yang lebih terorganisasi, lebih
sadar diri, dan secara potensial lebih berpengaruh dibanding revolusi Perancis
tahun 1789. Serangan terhadap dominasi aristokratis tradisional baik tahun
1789. Serangan terhadap dominasi aristokratis baik tahun 1789 dan tahun 1848
dipelopori oleh munculnya kelas borjuis. Revolusi yang terjadi di tahun 1848
diikuti orang-orang kelas buruh yang lebih terorganisasi, lebih sadar diri dan
secara potensial lebih berpengaruh.
Pada akhirnya apa
yang revolusi ini mempersiapkan kondisi-kondisi materil dan sosial untuk
kemenangan akhir kelas proletariat atas kelas borjuis, namun hal ini belumlah
cukup dengan kembalinya kekuatan-kekuatan konservatif yang berinisiatif untuk
kembali bersama kelompok borjuis dalam suatu posisi yang lebih berkuasa lagi
pada akhirnya memadamkan api-api revolusi. Hal ini berdampak buruk dalam
kehidupan Marx yang semakin semakin lama semakin lama memprihatinkan yang
membuat dia tidak mampu untuk membiayai keluarga secara mencukupi. Situasi ini
diringankan sedikit dengan bantuan keuangan dari engels selain itu Marx menulis
artikel-artikel tentang peristiwa-peristiwa di Eropa yang dibuat dalam New York Daily Tribune. Pertengahan
1850-an Marx menerima warisan kecil dari keluarga istrinya yang telah meninggal
yang membatnya bertahan untuk sementara.
II.
MATERIALISME HISTORIS MARX
Marx tidak setuju
dengan filsafat materialis dan pandangan positivis, menurutnya hal ini mencakupi
pengakuan bahwa manusia tidak hanya sekedar organisme materil; sebaliknya,
manusia memiliki kesadaran diri.
a. Kelemahan-kelemahan
Filsafat Abstrak Tradisional
Tekanan
materialism Marx harus dimengerti sebagai reaksi terhadap intepretasi
idealistik Hegel tentang sejarah dimana menganggap suatu peranan yang
menentukan adalah yang berasal dari evolusi progresif ide-ide. Marx menolak
filsafat sejarah Hegel karena mengabaikan kenyataan yang jelas bahwa ide-ide
tidak ada secara terlepas dari orang-orang yang benar-benar hidup dalam
lingkungan materil dan sosial yang sungguh-sungguh nyata. Ide-ide merupakan
produk kesadaran subyektif individu-individu, tetapi kesadaran akan
lingkungannya. Saling ketergantungan timbal balik antara pengalaman praktis
dalam dunia materil dan dunia kesadaran dan ide-ide, diperhatikan Marx dalam
pandangannya mengenai Praxis.
Konsepsi
materialis Marx diterapkan pertama kali pada perubahan sejarah dijelaskan dalam
karyanya The German Ideology, disusun
bersama Engels. Tema pokok dalam karya ini adalah bahwa perubahan-perubahan
dalam bentuk-bentuk kesadaran, ideologi-ideologi, atau asumsi-asumsi filosofis
mencerinkan, bukan menyebabkan perubahan-perubahan dalam kehidupan sosial dan
materil manusia. Kondisi-kondisi kehidupan materil bergantung pada
sumber-sumber alam yang ada dan kegiatan-manusia yang produktif. Namun
demikian, dunia kesadaran subyektif dan ide-ide tidak hanya suatu cerminan
lingkungan materil dan sosial.
b. Penjelasan
Materialis tentang Perubahan Sejarah
Diterapkan pada
pola-pola perubahan sejarah yang luas, penekanan materialistis ini berpusat
pada perubahan-perubahan cara atau teknik-teknik produksi materil sebagai
sumber utama perubahan sosial dan budaya. Hal ini mencakup perkembangan
teknologi baru, penemuan sumber-sumber baru, atau perkembangan baru lain apapun
dalam bidang kegiatan produktif.
Dalam The German Ideology, Marx dan Engels
menelusuri perubahan-perubahan utama kondisi-kondisi materil dan cara-cara
produksi di satu pihak dan hubungan-hubungan sosial serta norma-norma pemilikan
di lain pihak, mulai komunitas suku bangsa primitif merupakan satu komunitas
dimana milik yang dipunyai secara kolektif dan pembagian kerja sangat kecil.
Maksud dari The German Ideology
adalah untuk menunjukkan bahwa manusia menciptakan sejarahnya sendiri selama
mereka berjuang menghadapi lingkungan materilnya dan terlibat dalam
hubungan-hubungan sosial yang terbatas dalam proses. Tetapi kemampuan manusia
untuk membuat sejarahnya dibatasi oleh keadaan lingkungan materil dan sosial
yang sudah ada.
Visi Marx mengenai
masyarakat komunis masa depan sangatlah idealistis, dan kelihatannya
mengusulkan suatu akhir kontradiksi internal dan konflik-konflik kelas yang
mudah menjadi rangsangan utama perubahan sosial di masa lampau dan ini
bergantung pada sumbangan-sumbangan materil dari tahap kapitalis untuk
memajukan perkembangan daya-daya produksi masyarakat secara maksimal. Marx
tidak menganjurkan hancurnya dasar materil yang diberikan oleh kapitalisme
borjuis sebaliknya dia mengangan-angankan pemilikan daya-daya produksi
masyarakat secara komunal, dan suatu distribusi yang lebih merata yang
didasarkan pada kebutuhan manusia, bukan kerasukan borjuis.
III.
INFRASTRUKTUR EKONOMI DAN SUPERSTRUKTUR
SOSIO-BUDAYA
Dalam semua
karyanya Marx terus-menerus menekankan ketergantungan politik pada struktur
ekonomi akan berlaku untuk pendidikan, agama, keluarga dan semua institusi
sosial lainnya. Untuk menegaskan bahwa ekonomi merupakan dasar masyarakat,
tidak hendak mengatakan bahwa hanya ekonomi saja yang secara deterministik
mempengaruhi segi-segi lain kehidupan masyarakat. Marx sendiri kelihatannya
berubah dalam pandangannya tentang tingkat kebebasan institusi-institusi
lainnya dari pengaruh keniscayaan ekonomi atau kondisi-kondisi materil yang
menguasainya itu. Rupanya makin besar kebebasan dari tekanan-tekanan dan
keterbatasan-keterbatasan ekonomi, makin besar kemungkinan bahwa
institusi-institusi non-ekonomi dapat mengembangkan suatu sistem kepercayaan
yang padat dan kompleks, sikap-sikap dan ideologi-ideologi yang mungkin
mengaburkan dasar ekonomi.
1. Akibat-akibat
“Kesadaran Palsu” dalam Mendukung Struktur Ekonomi
Satu alasan
mengapa sulit melihat hubungan yang erat antara kondisi-kondisi materil dan
ekonomi dan ideology-ideologi budaya itu memberikan ilusi-ilusi untuk
mengimbangi ketimpangan-ketimpangan dan kekurangan-kekurangan dalam kondisi
hidup materil. Akibatnya sekalipun ideologi budaya mencerminkan kondisi-kondisi
materil dan hubungan-hubungan ekonomi dalam kehidupan manusia yang riil,
cerminan ini sering kali menyimpang. Artinya, mereka gagal untuk melihat
hubungan yang dekat antara kurangnya pemenuhan kebutuhan manusiawi mereka,
ketidakpuasannnya, penderitaannya di satu pihak dan struktur sosial dan ekonomi
serta kondisi-kondisi materil dimana mereka terlibat di lain pihak. Hasilnya
adalah kesadaran yang palsu. Hal ini sangat jelas dalam analisa Marx tentang
agama yakni tekanan agama tradisional pada dunia transenden, non-material dan
harapan akan hidup sesudah mati membantu mengalihkan perhatian orang dari
penderitaan fisik dan kesulitan materil dalam hidup ini. Ini merupakan dasar
sindiran Marx yang tajam mengenai agama yang merupaan “candu bagi manusia”.
Dalam The German Ideology Marx melihat Negara
sebagai satu kompensasi terhadap ketegangan-ketegangan yang muncul dari
pembagian kerja yang dipandangnya hanyalah memberikan ilusi dalam hal ini
negara melayani kepentingan ekonomi kelas sosial yang cukup kuat untuk
mengontrolnya demi tujuan mereka sendiri. Tidak hanya institusi-institusi
tertentu dengan ideologi-ideologi pendukungnya, tetapi juga pandangan hidup
yang dominan dalam suatu masyarakat akan mencerminkan tingkat kejelasan yang
berbeda, kondisi-kondisi materil kehidupan sebagaimana Nampak melalui struktur
ekonomi, dan akan mendukung posisi kelas dominan dalam struktur tersebut. Semua
bentuk kegiatan kreatif dan intelektual manusia ditentukan oleh keadaan materil
dan sosial dan mencerminkan suatu tahap sejarah tertentu dalam perkembangan
manusia dalam lingkungan itu.
2. Perubahan
dalam Struktur Sosial-Ekonomi dan dalam Pandangan Hidup
Baik perkembangan
struktur sosial juga perkembangan ide-ide revolusioner bergantung pada
kondisi-kondisi materil yang berubah dan pembentukan kekuatan-kekuatan materil
yang melahirkan perubahan-perubahan dalam hubungan sosial. Dalam kenyataannya
Marx mengemukakan tuntutan terhadap “kebebasan, persamaan dan persaudaraan”
merupakan satu tuntutan supaya kelas borjuis yang sedang muncul itu dibebaskan
dari kungkungan dan batas-batas tradisional untuk hak-haknya dalam mengejar
kepentingan borjuis mereka. Berangkat dari suatu pandangan yang sangat
individualistik tentang hakikat manusia para ahli ekonomi politik Inggris
berpendapat bahwa sistem pasar ekonomi kapitalis yang bersifat impersonal,
membebaskan individu dari kungkungan sosial tradisional buatan untuk mengejar
kepentingan pribadinya sendiri, dan sekaligus menjamin bahwa seluruh
kesejahteraan masyarakat terlayani secara baik.
Pendirian dasar
Marx yang berhubungan dengan pengaruh sistem ekonomi yang meresapi secara luas
institusi-institusi lainnya, dan pola-pola kebudayaan dapat langsung dipakai
untuk memberikan suatu kritik yang menyeluruh terhadap masyarakat-masyarakat
industri modern. Pelbagai institusi dapat dianalisa untuk menunjukkan
ketergantungan pada sumber-sumber materil yang tersedia melalui sistem ekonomi
serta tunduknya institusi-institusi itu pada tuntutan-tuntutan sistem ekonomi.
Analisa Marx tentang kondisi materil dan struktur ekonomi sebagai dasar sistem
sosio-budaya dan lainnya, menekankan pentingnya suatu realisme yang kuat, yang
kadang-kadang diperhatikan dalam teori-teori tentang masyarakat yang lebih
bersifat realistis.
IV.
KEGIATAN DAN ALIENASI
Inti seluruh teori
Marx adalah proporsi bahwa kelangsungan hidup manusia serta pemenuhan
kebutuhannya bergantung pada kegiatan produktif dimana secara aktif orang
terlibat dalam mengubah lingkungan alamnya. Namun kegiatan produktif itu
mempunyai akibat yang paradoks dan ironis, karena begitu individu mencurahkan
tenaga kreatifnya itu dalam kegiatan produktif yang terlepas dari manusia yang
membuatnya. Sehingga dengan demikian produk-produk yang diciptakan mewujudkan
sebagian dari hakikat manusia. Individu dalam hal ini harus menyesuaikan diri
dengan benda-benda yang membatasi kebebasannya sebagai manusia walaupun
manusialah yang menciptakannya. Proses ini tidak hanya berlaku untuk
benda-benda produk materil dalam lingkungan fisik, tapi juga untuk kebudayaan non-materil
yang diciptakan manusia dimana manusia membiarkan diri didominasi sebegitu rupa
oleh aturan-aturan dan kemudian menjadi tujuan dalam dirinya sendiri, dan bukan
sebagai alat untuk mencapai tujuan.
1. Pengaruh
Feuerbach
Teori Marx tentang
alienasi dan pengasingan diri sangat dipengaruhi oleh pembalikkan Ludwig
Feuerbach terhadap filsafat Hegel. Feuerbach sangat konsistensi dalam
mempertahankan bahwa dunia kesadaran serta ide-ide semata-mata suatu cerminan
kekuatan materil, suatu posisi yang seperti dimiliki Marx. Feuerbach
mengembangkan teorinya dalam bukunya Essence
of Chritianity dimana dirinya berargumentasi bahwa agama merupakan proyeksi
manusia dari sifat dasarnya, kemampuan-kemampuan dan aspirasi-aspirasinya
menjadi suatu makhluk supernatural. Dalam arti membiarkan manusia dikosingkan
dari sifat-sifat hakikinya secara psikologis dan untuk memperolehnya kembali
manusia harus mendekatkan diri dengan makhluk supranatural tersebut dan
menyembah dan meminta hakikat-hakikatnya kembali yang membuat mereka menjadi
manusia secara sempurna.
Meski teori Marx
tentang alienasi dipengaruhi oleh Feuerbach tapi dia juga mengkritik Feuerbach
tentang penekanan materialistis Feuerbach yang berat sebelah serta pandangannya
yang historis abstrak mengenai individu yang pasif, yang terpencil dari konteks
sosialnya. Marx menekankan pentingnya pemahaman terhadap konteks sosial dan
sejarah yang khas, dimana bentuk-bentuk khusus kesadaran dan ilusi-ilusi agama
atau indologis muncul. Marx juga menekankan peran aktif yang mungkin dimainkan
dalam proses sejarah dan hubungan dialektik
antara seseorang sebagai objek dan seseorang sebagai subyek yang aktif.
Komitmen Marx
untuk mengubah dunia melalui kegiatan praxis didasarkan pada kepercayaan
idealistisnya bahwa alienasi akhirnya dapat diatasi. Sehingga pandangan
Feuerbach tentang sumber alienasi merupakan langkah awal bagi Marx yang
selanjutnya adalah mengidentifikasi kondisi materil dan kondisi sosial yang
merupakan sumber alienasi dan ilusi. Marx sependapat dengan Feuerbach tentang
bentuk alienasi yang paling mendalam dinyatakan dalam ideologi dan filsafat.
Tapi bukan berarti satu-satunya bidang dimana alienasi dapat diamati, alienasi
menurutnya juga terdapat dalam hubungan-hubungan ekonomi dan dalam institusi
politik serta ideologi-ideologi.
2. Alienasi
Kaum Buruh dalam Masyarakat Kapitalis
Dengan latar
belakang filsafat dilektik Hegel, Marx menarik kesimpulan dari studinya
mengenai sistem kapitalis laissez-faire,
yang jauh lebih simpatik dimana dirinya menyayangkan pengaruh-pengaruh
individualism yang semakin meningkat serta sistem pasar bebasnya dalam
memecahkan ikatan-ikatan sosial, yang diamasa lampau sudah membantu
memanusiakan hubungan-hubungan ekonomi. Dia melihat pengaruh-pengaruh ini
sebagai sesuatu manusia sebagai barang komoditi saja dalam pasar, yang
tenaganya diperjualbelikan tanpa melihat manusia dari sesamanya dan dari kodrat
sosialnya sendiri.
Alienasi juga
merupakan akibat dari hilangnya control individu atas kegiatan kreatifnya
sendiri dan produksi yang dihasilkannya. Pekerjaan dialami sebagai suatu
keharusan untuk sekedar bertahan hidup dan tidak sebagai alat manusia untuk
mengembangkan atau menyatakan kemampuannya yang kreatif. Hubungan antara
majikan kapitalis dan buruh yang sangat bersifat ekonomis, sama sekali terlepas
dari pengaruh ikatan sosial non-ekonomi yang bersifat manusiawi dan lunak.
Akibatnya pekerja menjadi suatu komoditi dalam pasaran tenaga kerja yang
tugasnya ditentukan oleh majukan kapitalis untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.
Alienasi melekat dalam setiap sistem pembagian kerja dan pemilikan pribadi
tetapi bentuknya yang paling ekstreme ada dalam kapitalisme, dimana mekanisme
pasar yang impersonal itu, dengan menurunkan kodrat manusia menjadi komoditi.
3. Alienasi
Politik
Pelan-pelan
analisa Marx berubah saat dia mengembangkan gagasan-gagasanya. Marx melihat
negara sebagai suatu kompensasi dari ketegangan dalam masyarakat yang muncul
karena pembagian kerja. Tapi dalam The
Communist Manifesto pemikirannya berubah dalam melihat bahwa negara
terutama melindungi kepentingan kelas yag dominan dalam masyarakat. Manurut
Marx pandangan tentang negara sebelumnya tidak harus bertentangan dimana negara
sebagai sumber ilusi yang berhubungan dengan kehidupan manusia komunal, ke negara
sebagai alat yang dipergunakan oleh kelas yang dominan.
Alienasi nampaknya
tidak dapat dihindari dalam pandangan mengenai kodrat manusia yang paradoks. Di
satu pihak manusia menuangkan potensi manusiawinya yang kreatif dalam
kegiatannya, dilain pihak produk-produk kegiatan kreatifitasnya itu menjadi
benda yang berada diluar control manusia yang menciptakannya yang menghambat
kreatifitas mereka selanjutnya. Meskipun kebanyakan masyarakat dalam sejarah
memperlihatkan suasana alienasi sehingga perkembangan alienani jauh lebih
berkembang daripada masyarakat kapitalis borjuis. Marx yakin hal ini akan
mengakhiri alienasi, yang memungkinkan orang untuk mengungkapkan kodrat
manusianya secara utuh dalam kegiatannya
untuk mereka sendiri.
V.
KELAS SOSIAL, KESADARAN KELAS DAN
PERUBAHAN SOSIAL
Marx bukan orang
pertama yang menemukan kelas sosial dalam masyarakat. Walaupun konsep kelas
begitu meluasnya namun Marx melihat ini sebagai kategori yang paling dasar
dalam struktur sosial. Pembagian yang paling penting dalam masyarakat adalah
pembagian diantara kelas-kelas yang berbeda termasuk factor yang mempengaruhi
gaya hidup dan kesadaran yang berbeda, ketegangan konflik yang muncul.
1. Hubungan
Ekonomi dan Struktur Kelas
Kemampuan manusia
untuk memenuhi pelbagai kebutuhannya tergantung pada terlibatnya mereka dalam
hubungan sosial dengan orang lain untuk mengubah lingkungan materil melalui
kegiatan produktifnya. Proses-proses sosial ini yang disertai dengan
perbedaan-perbedaan alamiah antara satu orang dengan orang lain, segera
menimbulkan perbedaan dalam pemilikan atau control terhadap sumber-sumber alam
serta alat-alat produksi.
Meskipun pemilikan
atau penguasaan atas alat produksi selalu merupakan sumber mutlak untuk
pembagian kelas, karakteristik khusus dari kelas-kelas yang berbeda dan sifat
hubungan sosial di antara kelas-kelas sosial itu akan berbeda-beda dalam
masyarakat yang berbeda-beda atau dalam tahap sejarah yang berbeda-beda.
Bersama dengan perbedaan-perbedaan dalam hubungan kelas pelbagai tahap sejarah,
adapula perbedaan-perbedaan internal gaya hidup dan bentuk kesadaran dalam
kelas-kelas utama.
2. Pembedaan
Kelas Primer dan Sekunder
Marx menjelaskan
secara sistematis tentang konsep kelas, dimana dia mengidentifikasikan tiga
kelas utama dalam masyarakat kapitalis (buruh upahan, kapitalis dan pemilik
tanah). Oleh karena sistem kapitalis berkembang, Marx berharap ketiga sistem
kelas secara bertaha akan diganti oleh suatu sistem dua kelas, begitu lapisan
menengah hilang, dan tentu saja cara kerja kapitalis itu diperluas dari
perusahaan industry ke perusahaan pertanian. Marx meramalkan bahwa perkembangan
masyarakat kapitalis ke sistem dua kelas akhirnya akan mengakibatkan hilangnya
kelas borjuis kecil.
3. Kepentingan
Kelas Obyektif dan Kesadaran Kelas Subyektif
Sumber pokok yang
mendasari pembedaan-pembedaan kelas yang utama yakni kesempatan berbeda untuk
memiliki alat-alat produksi. Hasilnya individu tidak sadar akan kepentingan
kelasnya sendiri bersama orang-orang lain yang ada dalam posisi serupa. Marx
mengakui aspek obyektif subyektif itu termasuk dalam konsep kelas, dan istilah
yang paling lengkap harus mencakup aspek tersebut yang berhubungan dengan
pembedaan antara dimensi kelas subyektif dan obyektif adalah pembedaan antara
kepentingan kelas. Konsep kepentingan “mengacu” pada sumber-sumber materil yang
actual yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan individu.
Kurangnya kesadaran
penuh akan kepentingan kelas sangat berhubungan dengan penerimaan ideology yang
dikembangkan untuk mendukung kelas dominan dana struktur sosial yang ada.
Pengaruh ideology ini adalah munculnya “kesadaran palsu”. Kesadaran palsu dapat
berupa kepercayaan bahwa kesejahteraan materil orang pada masa kini dan dimasa
yang akan datang terletak dalam dukungan terhadap status quo politik dimana
kepentingan materil seseorang seseuai dengan kepentingan kelas penguasa.
Literatur
:
Johnson,
Doyle. P. (1998). Teori Sosiologi: Klasik
dan Modern. Terj. Robert. M.Z. Lawang. Jakarta: Gramedia
Komentar
Posting Komentar