HUBUNGAN AGAMA DAN MASYARAKAT MENURUT MAX WEBER

 

HUBUNGAN AGAMA DAN MASYARAKAT MENURUT WEBER

Setiap ahli yang mau mendasarkan analisanya mengenai pola-pola institusional dalam masyarakat pada orientasi-orientasi subyektif individu atau pola-pola motivasional, akan langsung menghadapi masalah yang bermacam-macam dan kompleks. Dalam hal ini weber memilih konsep rasionalitas sebagai titik pusat perhatiannya yang utama, konsep ini sama dengan konsep solidaritas untuk Durkheim, konflik kelas Marx, tahap-rahap perkembangan inttelektual bagi Comte dan mentalitas budaya untuk Sorokin.

Waber melihat perkembangan masyarakat Barat yang modern sebagai suatu hal yang menyangkut peningkatan yang mantap dalam bentuk rasionalitas, yang tercermin dalam tindakan ekonomi individu setiap hari dan dalam bentuk-bentuk organisasi sosial juga dalam evolusi musik Barat. Salah satu sumbangan Weber yang paling mahsyur terhadap sosiologi adalah analisa klasiknya mengenai birokrasi modern sebagai satu bentuk organisasi sosial yang paling rasional dirancangkan.

I.                    RIWAYAT HIDUP WEBER

Max Weber lahir di Erfurt, Thuringia tahun 1864, tetapi dibesarkan di Berlin keluarganya berpindah saat dirinya berusia 5 tahun. Keluarganya adalah orang Protestan kelas menengah-atas, sangat termakan oleh kebudayaan borjuis. Ayahnya adalah seorang hakim di Erfurt yang saat pindah ke Berlin ayahnya kemudian terlibat dalam pemerintahan dan aktif berpolitik. Ibunya bernama Helene Fallenstein Weber, keyakinan agamanya serta perasaan saleh Calvinis jauh lebih besar daripada suaminya. Konflik dalam keluarga terjadi muncul dalam perkawinan oleh karena ayahnya yang merupakan seorang politisi yang suka senang-senang dan mudah kompromi yang mengendalikan keluarganya dengan tangan besi, bahkan sampai menganiaya istrinya. Latar belakang ini merupakan salah satu elemen dalam konflik batin yang diderita weber selama hampir seluruh kehidupan dewasanya.

Ketika masih kecil, Weber adalah seorang pemalu dan sering sakit, tetapi dia sangat jenius, dia membaca dan menulis sesuatu secara ilmiah ketika dia masih remaja. Pada usia 18 tahun Weber mulai mempelajari hukum di universitas Heidelberg. Studinya di Heidelberg terganggu karena tugas militer di Strasbourg, dimana dia menjalin hubungan erat dengan pamannya yang bernama Herman Baumgarten dan tantenya dari pihak ibu bernama Ida. Idealisme Baumgarten sendiri disertai sikap hormat yang dia tunjukan kepada istrinya yang saleh sama seperti saudaranya yakni ibu Weber, memperlihatkan kepada weber bahwa sukses yang praktis tidak harus menuntut seluruh pengorbanan prinsip-prinsip kesadaran dan sikap perilaku mereka sangat berpengaruh bagi Weber. Weber sangat menolak sikap ayahnya yang bersifat amoral dan mengarahkan perilakunya sama seperti ibunya.

Selanjutnya Weber meneruskan studi akademisnya di Berlin dan mulai membantu dalam pengadilan hukum disana sementara ia tinggal dengan orang tuanya. Tahun 1889 dirinya menyelesaikan tesis doktoralnya. Sesudah merampungkan tesis post-doktoral mengenai sejarah agraria Roma, dia mulai mengajar di Universitas Berlin, dan sementara itu masih bekerja sebagai pengacara.

a)      Gangguan dalam Karir Akademisnya

Weber membaktikan seluruh waktunya untuk kehidupan akademisnya ketika dia menerima kedudukan sebagai professor ekonomi di Universitas Freiburg tahun 1894, dan 2 tahun berselang ia kembali ke Universitas Heidelburg sebagai professor ekonomi. Namun awal yang meyakinkan ini harus terputus, oleh karena tahun 1897 ayahnya datang dan dirinya harus bertemu dan berdebat sengit dengan ayahnya mengenai perlakuan ayahnya terhadap ibunya dan bahkan dia mengusir ayahnya dari rumah. Sebulan kemudian ayahnya meninggal dan hal ini membuat Weber merasa bersalah sehingga kesehatan fisik juga psikisnya terganggu bertahun-tahun dan harus dirawat di rumah sakit.

Saat masa-masa genting itu, Weber melakukan perjalanan ke Italia dan pada tahun 1903 dia bergabung dengan Sombart yang menerbitkan Archiv fuer Sozialwissenchaft und Sozialpolitik, yang menjadi jurnal ilmu sosial terkemuka di Jerman. Tahun 1904 dia menerbitkan bagian pertama dari bukunya dengan judul Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism, juga ke Amerika menyampaikan paper dan mengamati pengaruh sekte Protestan, peranan birokrasi dalam suatu masyarakat demokrasi dan pola perserikatan yang bebas serta di tahun 1910 bersama dengan Tonnies dan Simmel mereka mendirikan German Sociological Society.

Sebagai seorang nasionalis tulen yang mengagumi tujuan Bismarck, Weber mengkritik Bismarck yang tidak toleran terhadap pemimpin-pemimpin karena tidak memperhatikan petani-petani Jerman Timur yang terlantar. Weber menjadi semakin putus asa atas keadaan dan nasib bangsa dan akan ketidakmampuan orang buta dan ceroboh dalam kepemimpinan dan struktur administrtif. Namun ketika perang dimulai Weber menjadi sukarelawan dan sebagai seorang perwira cadangan, dia dipercayakan memegang pimpinan untuk sembilan rumah sakit militer, suatu posisi yang memberikan dirinya suatu pemahaman dari dalam mengenai birokrasi. Seri monografnya mengenai perbandingan agama diterbitkan tidak lama sesudah dia pensiun dari kegiatan militernya dan terus melanjutkan karya utamanya, Wirtschaft und Gesselschaft ( Economy and Society ), yang telah di mulai sebelumnya, namun belum sempat dia menyelesaikannya 14 Juni 1920 dia meninggal.

b)      Iklim Sosial dan Politik

Struktur sosial dan politik di Jerman pada masa Weber sangatlah tegang dan penuh dengan kontradiksi, seperti halnya dengan kehidupan keluarganya, karena kepentingan politik yang mendalam dan semangat nasional, ketegangan dan kontradiksi ini pasti juga mempengaruhi batin Weber. Iklim sosial dan politik di Jerman pada waktu itu, sebagiannya merupakan akibat dari kenyataan bahwa Revolusi Industri dan perubahan yang berhubungan dengan revolusi itu dalam bidang ekonomi terjadi lebih kemudian di Jerman darpada di Inggris atau Perancis. Jerman belum mengalami suatu revolusi yang menyeluruh dan menentukan seperti Revolusi Perancis, karena itu sistem nilai tradisional masih sangat berpengaruh. Tetapi  dasar ekonomi bagi gaya hidup aristokratik ini sangat cepat goyah, sebagiannya karena dominasi ekonomi kaum borjuis yang semakin besar serta pola-pola perdagangan luar negeri yang sedang mengalami perubahan.

Peranan kaum intelektual juga sangat berpengaruh. Para profeser-profesor di universitas suka akan penghargaan yang tinggi dan bayaran yang baik serta merasa tidak terlalu perlu untuk bersifat sangat kritis terhadap status-quo dalam bidang politik. Para akademis cenderung menganut ideologi politik dari struktur kekuasaan dan mendukung tujuan politik untuk suatu Jerman yang kuat, satu dan dominan dalam bidang kebudayaan.

Minat weber dalam bidang politik menjadi moderat karena pendiriannya yang kuat pada obyektifitas intelektual. Meski demikian, baik dalam kehidupan pribadinya maupun dalam tulisannya ada suatu perasaan yang tajam akan pentingnya untuk menolak atau mengesampingkan politik praktis, perhatian utamanya bahwa kelas pekerja itu harus terlibat dalam mendukung tujuan nasionalisme Jerman, namun dia tidak terlalu yakin bahwa partai Demokrat Sosial merupakan partai yang meningkatkan kepentingan kaum proletar. Di masa-masa menjelang kematianya dia membantu mengorganisasi partai Demokrat Jerman, suatu partai kaum borjuis liberal juga sekaligus menjadi anggota komisi yang merancangkan Konstitusi Weimar. Sosiologi Weber harus dimengerti dalam konteks latar belakang sosial politik masyarakat Jerman, suatu masyarakat yang berada dalam transisi yang pesat dan penuh dengan kontradiksi internal.

II.                 TINDAKAN INDIVIDU DAN ARTI SUBYEKTIF

a)      Gambaran Weber tentang Kenyataan Sosial Versus Durkheim

Baik Durkheim maupun Weber memiliki pemahaman masing-masing dalam memandang kenyataan sosial dimana Durkheim yang melihat kenyataan sosial sebagai sesuatu yang mengatasi individu, sedangkan Weber melihat kenyataan sosial sebagai sesuatu yang didasarkan pada motivasi individu dan tindakan-tindakan sosial dan keduanya berbeda. Durkheim memiliki posisi yang umumnya berhubungan dengan realisme sosial dimana masyarakat dilihat sebagai suatu yang riil, berbeda secara terlepas dari individu-individu yang kebetulan termasuk di dalamnya bekerja menurut prinsip-prinsipnya sendiri yang khas. Sebaliknya, posisi Weber berhubungan dengan posisi nominalis. Kaum nominalis berpendirian bahwa hanya individu-individulah yang riil secara obyektif, dan bahwa masyarakat hanyalah satu nama yang menunjuk pada sekumpulan individu-individu dan konsep struktur yang lebih daripada individu dan perilakunya serta transaksinya merupakan suatu abstarksi spekulatif tanpa suatu dasar apapun dalam dunia empiris.

Perbedaan penting lainnya antara Durkheim dan Weber adalah pandangannya mengenai proses-proses subyektif. Tekanan Durkheim pada fakta sosial sebagai benda mencerminkan suatu usaha untuk bersifat obyektif dan berlandaskan pada kenyataan. Sabaliknya, arti-arti subyektif sangat penting dalam definisi Weber. Tujuan Weber ialah untuk masuk ke arti subyektif yang berhubungan dengan pelbagai “kategori interaksi manusia”, untuk menggunakannya dalam membedakan antara tipe-tipe struktur sosial dan memahami arah perubahan sosial yang besar dalam masyarakat-masyarakat Barat. Dunia budaya tidaklah dipandang sebagai sesuatu yang sesuai dengan yang dimengerti menurut hukum-hukum ilmu alam saja, yang menyatakan hubungan keharusan kausal, dunia budaya dilihat sebagai suatu dunia kebebasan dan dalam hubungannya dengan pengalaman dan pemahaman internal dimana arti-arti subyektif itu diterima.

b)      Menjelaskan tindakan sosial melalui pemahaman subyektif

Bagi Weber pemikirannya yang memberikan tekanan pada verstehen (pengalaman subyektif) sebagai pola untuk memperoleh pemahaman yang valid tentang arti-arti subyektif tindakan sosial bukan sekedar merupakan intropeksi tapi merupakan empati yakni kemampuan untuk menempatkan diri dalam kerangka berpikir orang lain yang perilakunya mau diperjelaskan dan situasi serta tujuan-tujuannya mau dilihat. Sosiologi harus menganalisa perilaku aktual manusia individual menurut orientasi subyektif mereka sendiri. Dalam hal ini pemahamannya ini berlawanan dengan strategi idealistic yang hanya mengintepretasi perilaku individu atau perkembangan sejarah suatu masyarakat menurut asumsi-asumsi apriori yang luas. Namun pada kenyataannya Weber maju setapak lebih jauh dalam memisahkan nilai-nilai dari analisa ilmiah, selain waspada terhadap bias dengan metode pemahaman subyektif Weber juga mempertahankan bahwa pengetahuan ilmiah tidak pernah dapat merupakan suatu dasar untuk memberikan pertimbangan nilai.

Weber mengetahui bahwa nilai-nilai mempengaruhi karya ilmiah, khususnya dalam penentuan gejala yang dianalisa atau permasalahan-permasalahan yang akan diteliti. Tetapi, sekali kenyataan-kenyataan itu masuk menjadi permasalahan tertentu, kenyataan-kenyataan itu tidak dapat digunakan menjadi bukti yang meyakinkan mengenai legitimasi akan suatu posisi moral tertentu.

c)      Analisa Tipe Ideal : dari Peristiwa Unik ke Proposi Umum

Disamping idealisme, aliran historis Jerman juga mempengaruhi pemikiran sosial. Bagi kaum sejarawan Jerman, proposi semacam itu tidak berlaku untuk pelbagai faktor sosial budaya yang membatasi rasionalitas ekonomi dan menekankan situasi institusional tertentu dalam perilaku ekonomi. Mereka percaya bahwa semua institusi sosial hanya dapat dimengerti dalam hubungannya dengan latar belakang historis tertentu yang unik dan kebudayaan suatu masyarakat tertentu dan Weber sependapat dengan pemahaman ini. Namun berlawanan dengan pendekatan ini Weber mengembangkan tipe ideal sebagai suatu cara untuk memungkinkan perbandingan dan generalisasi empirik.

Penggunaan tipe-tipe ideal merupakan hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Weber mengemukakan bahwa suatu tipe ideal dibentuk dengan suatu penekanan yang berat sebelah mengenai suatu pokok pandangan atau lebih, dengan kata lain si penganalisa memilih aspek-aspek suatu gejala yang kelihatannya sama dengan konsistensi logis dan mengkonstruksikan suatu keseluruhan dari aspek-aspek itu yang terpadu dan kompak. Konstruksi tipe-tipe ideal tidak mengandung pertimbangan nilai mengenai gejala yang sedang kita amati. Tipe ideal dapat dikonstruksikan menurut tingkat-tingkat yang berbeda-beda dan dengan tingkat generaliras yang berbeda pula. Orang dapat mengembangkan tipe ideal mengenai pola-pola personalitas, hubungan sosial, kelompok atau kolektivitas yang lebih besar.

III.              TIPE-TIPE TINDAKAN SOSIAL

Dalam melihat konflik tradisional antara kaum abyektivitas dan subyektif, “analisa obyektif mengenai arti subyektif” mungkin kelihatannya merupakan suatu kontradiksi dalam istilah-istilah itu sendiri. Asumsi yang biasanya mendasari debat ini adalah bahwa pendekatan “obyektif” hanya berhubungan dengan gejala yang dapat diamati, sedangkan pendekatan “subyektif” berusaha untuk memperhatikan juga gejala-gejala yang sukar ditangkap dan tidak dapat diamati seperti perasaan individu, pikirannya dan motif-motifnya.

Rasionalitas dan peraturan yang biasa mengenai logika merupakan suatu kerangka acuan bersama secara luas dimana aspek-aspek sunyektif perilaku dapat dinilaisecara obyektif. Tidak semua perilaku dapat dimengerti sebagai suatu manifestasi rasionalitas. Penderitaan-penderitaan seperti kemarahan, cinta atau ketakutan mungkin diungkapkan dalam perilaku nyata dalam bentuk yang sepintas lalu kelihatannya tidak rasional. Rasionalitas merupakan konsep dasar yang dipakai Weber dalam klasifikasinya mengenai tipe-tipe tindakan sosial.

a)      Rasionalitas Instrumental ( Zweckrationalitat)

Tingkat rasionalitas yang paling tinggi meliputi pertimbangan dan pilihan yang sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan itu dan alat yang dipergunakan untuk mencapainya. Akhirnya suatu pilihan dibuat atas alat yang dipergunakan yang kiranya mencerminkan pertimbangan individu atas efisiensi dan efektivitasnya. Sesudah tindakan itu dilaksanakan, orang itu dapat menentukan secara obyektif sesuatu yang berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai.

Weber menjelaskan “tindakan diarahkan ke suatu sistem dari tujuan-tujuan individu yang memiliki sifat-sifatnya” apabila tujuan itu, alat dan akibat-akibat sekundernya diperhitungkan dan dipertimbangkan semuanya secara rasional.

b)      Rasionalitas yang Berorientasi Nilai (Wertrationalitat)

Dibandingkan dengan rasionalitas instrumental, sifat rasionalitas yang berorientasi nilai yang penting adalah bahwa alat-alat hanya merupakan obyek pertimbangan dan perhitungan yang sadar, tujuan-tujuannya sudah ada dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut atau merupakan nilai akhir baginya. Nilai-nilai akhir bersifat nonrasional dalam hal dimana seseorang tidak dapat memperhitungkannya secara obyektif mengenai tujuan-tujuan mana yang harus dipilih. Tindakan religius mungkin merupakan bentuk dasar dari rasionalitas yang berorientasi nilai ini. Orang yang beragama mungkin menilai pengalaman subyektif mengenai kehadiran Allah bersamanya atau perasaan damai dalam hati atau dengan manusia seluruhnya suatu nilai akhir dimana dalam perbandingannya nilai-nilai lain menjadi tidak penting.

c)      Tindakan Tradisional

Tindakan ini merupakan tipe tindakan sosial yang sifatnya nonrasional. Kalau seseorang individu memperlihatkan perilaku karena kebiasaan, tanpa refleksi yang sadar atau perencanaan, perilaku seperti itu digolongkan sebagai tindakan tradisional. Satu-satunya pembenaran yang perlu adalah bahwa, “inilah cara yang sudah dilaksanakan oleh nenek moyang kami, dan demikian pula nenek moyang mereka sebelumnya, ini adalah cara yang sudah begini dan akan terus begini”.

d)      Tindakan Afektif

Tipe tindakan ini ditandai oleh dominasi perasaan atau emosi (cinta, kemarahan, ketakutan, kegembiraan secara spontan) tanpa refleksi intelektual atau perencanaan sadar atau dengan kata lain kurangnya pertimbangan logis, ideologi, atau kriteria rasionalitas lainnya.

Keempat tipe tindakan sosial harus dilihat sebagai tipe-tipe ideal. Weber mengakui bahwa tidak banyak tindakan, kalau ada, yang seluruhnya sesuai dengan salah satu tipe ideal ini tetapi, bagi kebanyakan tindakan, hal itu harus memperlihatkan kemungkinan untuk mengidentifikasi mana dari orientasi-orientasi sunyektif terdahulu itu yang bersifat primer. Pola perilaku khusus yang mungkin bisa sesuai dengan kategori-kategori tindakan sosial yang berbeda dalam situasi-situasi yang berbeda, tergantung pada orientasi subyektif dari individu yang terlibat.

IV.              TINDAKAN SOSIAL DAN STRUKTUR SOSIAL

Struktur sosial dalam perspektif Weber didefinisikan dalam istilah-istilah yang bersifat probabilistik dan bukan sebagai suatu kenyataan empirik yang ada terlepas dari individu-individu. Realitas akhir menjadi dasar satuan-satuan sosial yang lebih besar ini adalah tindakan sosial individu dengan arti-arti subyektifnya karena, orientasi subyektif individu mencakup kesadaran akan tindakan yang mungkin dan reaksi-reaksi yang mungkin dari orang lain, maka probabilita-probabilita ini mempunyai pengaruh yang benar-benar terhadap tindakan sosial, baik sebagai sesuatu yang bersifat memaksa maupun sebagai suatu alat untuk mempermudah satu jenis tindakan daripada yang lainnya.

a)      Stratifikasi : Ekonomi, Budaya dan Politik

Pengaturan orang-orang secara hirarkis dalam suatu sistem stratifikasi sosial merupakan satu segi yang sangat mendasar dalam pandangan Weber mengenai struktur sosial. Weber sepakat dengan Marx yang melihat ekonomi sebagai dasar struktur sosial, dan posisi-posisi orang dalam struktur ini ditentukan terutama oleh apakah dia memiliki alat produksi atau tidak.

Weber juga mengakui pentingnya stratifikasi ekonomi sebagai dasar yang fundamental untuk kelas. Bagi dia kelas sosial terdiri dari semua mereka yang memiliki kesempatan hidup yang sama dalam bidang ekonomi. Orang juga digolongkan dalam lapisan-lapisan berdasarkan kehormatan atau prestise, seperti yang dinyatakan dalam gaya hidup bersama. Hasilnya adalah pengaturan orang dalam kelompok-kelompok status. Dalam pandangan Weber hirarki status mencerminkan dinamikanya sendiri, dan orang yang secara ekonomis dominan, mungkin dengan sengaja berusaha dengan berbagai cara yang berbeda untuk meningkatkan prestisenya. Hal ini juga berlaku pada lapisan bawah, mereka merasa terikat karena adanya perasaan bersama bahwa mereka dikucilkan dan dianggap rendah, dan karena adanya keharusan melaksanakan peran yang memperlihatkan kepatuhan pada atasannya. Selain posisi ekonomis dan kehormatan kelompok status, dasar yang lain untuk stratifikasi sosial adalah kekuasaan politik. Menurut Weber kekuasaan adalah kemampuan untuk memaksakan kehandak seseorang meskipun mendapat tantangan dari orang lain. Partai politik merupakan tipe organisasi dimana perjuangan untuk memperoleh atau menggunakan kekuasaan dinyatakan paling jelas ditingkat organisasi rasional tetapi semua organisasi memiliki segi politisinya.

Struktur kekuasaan tidak harus setara dengan struktur otoritas. Otoritas adalah kemungkinan dimana seseorang ditaati atas dasar suatu kepercayaan akan legitimasi haknya untuk mempengaruhi, kekuasaan adalah kemampuan untuk mengatasi perlawanan dari orang lain dalam mempengaruhi perilaku mereka. Mereka berusaha untuk menggunakan kekuasaan secara terus-menerus biasanya berusaha untuk menanamkan suatu kepercayaan akan haknya untuk berbuat demikian, artinya mereka berusaha untuk menegakkan legitimasi kekuasaan mereka.

Analisa-analisa masa kini mengenai stratifikasi sosial sangat bertalian dengan analisa Weber. Perbedaan antara status sebagai suatu dimensi stratifikasi dan posisi ekonomi sudah menjadi patokan standar dalam teori stratifikasi dan penelitian masa kini. Gusfield yang mempelajari sejarah Women’s Christian Temperace Union misalnya dimana dalam hal ini gaya hidup dan sistem nilai orang Protestan yang sudah mapan di desa atau kota kecil, dilihat sebagai suatu yang terancam oleh ekspansi yang pesat dari imigran Katolik ke daerah-daerah kota. Studi mengenai organisasi dimasa kini mencerminkan betapa dimensi kekuasaan dan otoritas itu amat diperhatikan dalam proses-proses organisasi.

b)      Tipe Otoritas dan Bentuk Organisasi sosial

Tindakan-tindakan sosial individu membentuk bangunan dasar untuk struktur-struktur sosial yang lebih besar. Dalam The Teory of Social and Economic Organization, Weber meletakan dasar ini dengan mengembangkan serangkaian distingsi-distingsi tipologis yang bergerak dari tingkatan hubungan sosial ketingkatan keteraturan ekonomi, sosial dan politik. Weber menunjukan empat dasar legitimasi yang berbeda-beda, yang mencerminkan tipologi tindakan sosial diantaranya:

v  Karena tradisi, suatu kepercayaan akan legitimasi mengenai apa yang sudah selalu ada.

v  Berdasarkan sikap-sikap afektual, terutama emosi, yang melegitimasi validitas mengenai apa yang baru ungkapkan atau suatu model yang ditiru.

v  Berdasarkan kepercayaan rasional akan suatu komitmen absolut dan terakhir.

v  Karena dibentuk dalam suatu cara yang diakui sebagai yang sah.

Weber mengidentifikasi tiga dasar legitimasi yang utama dalam hubungan otoritas, ketiganya dibuat berdasarkam tipologi tindakan sosial yang sudah kita lihat sebelumnya. Masing-masing tipe berhubungan dengan tipe struktur administratifnya sendiri dan dinamika sosialnya sendiri yang khusus.

1)      Otoritas Tradisional

Tipe otoritas ini berlandaskan “pada suatu kepercayaan yang mapan terhadap kekudusan tradisi-tradisi zaman dulu serta legitimasi status mereka yang menggunakan otoritas yang dimilikinya.” Jadi alasan penting orang taat pada struktur otoritas itu ialah kepercayaan mereka bahwa hal itu sudah selalu. Hubungan antara tokoh yang memiliki otoritas dan bawahannya pada dasarnya merupakan hubungan pribadi. Untuk memahami dinamika otoritas adalah dengan melihatnya sebagai suatu perpanjangan dari hubungan keluarga. Walaupun pemimpin dan bawahannya terikat oleh peraturan-peraturan tradisional, masih ada keleluasaan bagi atasannya secara pribadi dalam menggunakan otoritasnya dan dalam keadaan seperti itu bawahan terpaksa taat. Weber membedakan tiga otoritas tradisional: gerontokasi, patriarkalisme dan patrimonialisme.

Pengawasan gerontokasi berada pada tangan orang-orang tua dalam satu kelompok; pengawasan dalam patriakalisme berada dalam tangan suatu satuan kekerabatan (rumah tangga) yang dipegang oleh seorang individu tertentu yang memiliki ototritas warisan. Dalam kedua sistem ini tidak ada staf administrasi dimana bawahannya merupakan anggota kelompok yang atas namanya otoritas dilaksanakan. Namun dalam sistem otoritas patrimonial terdapat suatu staf administarif yang terdiri dari orang-orang yang mempunyai hubungan pribadi dengan pemimpinya. Tingkat otoritas pemimpin patrimonial yang leluasa bisa sangat berbeda-beda. Otoritas yang terbatas dan desentralisasi yang luas terjadi apabila anggota staf administarif dipilih dari atau berkembang atas suatu kelompok status mereka sendiri atau atas suatu kelompok yang berbada hukum. Hal ini dapat menyebabkan staf administarif itu bisa menganggap posisinya sebagai milik pribadi mereka sendiri dan menggunakan otoritas terbatas dengan tepat dalam bidang administarifnya. Itulah mengapa kekuasaan penguasa patrimonial semakin menipis di kalangan administarif atau kelompok semi-idependen salah satu diantanya adalah ekspansi territorial dimana penguasa patrimonial tidak dapat mengendalikan secara langsung atau melalui anggota-anggota keluarganya sendiri.

Konflik dan perubahan terjadi dalam sistem patrimonial persis berhubungan dengan tingkat kekuasaan dan otoritas yang leluasa, yang tidak terikat oleh tradisi yang ada pada penguasa itu. Biasanya kepentingan penguasa itu adalah dalam memperbesar kekuasaan pribadinya yang bijaksana itu, sedangkan bawahan mempunyai kepentingan dalam memperbesar ruang gerak kebebasannya. Namun kedua pihak melihat tradisi sebagai dasar akhir dari legitimasi.

2)      Otoritas Karismatik

Otoritas ini didasarkan pada mutu yang luar biasa yang dimiliki pemimpin itu sebagai seorang pribadi. Istilah “karisma” digunakan dalam penggunaan yang luas untuk menunjukan pada daya tarik pribadi yang ada pada orang sebagai pemimpin. Dalam penggunaan Weber, hal ini meliputi karateristik-karateristik pribadi yang memberikan inspirasi pada mereka yang bakal menjadi pengikutnya. Kepemimpinan karismatik di orientasikan kepada hal-hal yang stabil dan langgeng. Kalau otoritas tradisional diorientasikan untuk mempertahankan statu-quo kepemimpinan karismatik biasanya menentang status-quo.

Gerakan sosial yang dibimbing secara karismatik bersifat tidak stabil dan sangat mudah berubah-ubah. Sering mereka yang sangat terlibat dalam gerakan ini mengabaikan pekerjaannya, meninggalkan keluarganya, menjual atau memberikan semua milik bendawinya supaya dapat mengikuti pemimpin karismatik itu dengan sepenuh hati. Para murid yang memiliki komitmen yang tinggi itu menciptakan hubungan yang erat, hubungan seperti keluarga dengan pemimpinnya dan antara mereka satu sama lain. Gerakan ini biasanya muncul diluar kerangka kehidupan sehari-hari yang biasanya, dan dalam semangat bertentangan dengan apa yang rutin dalam kehidupan yang biasa itu. Banyak gerakan karismatik gagal bertahan sesudah pemimpinnya meninggal. Krisis sosial yang membantu mempercepat gerakan itu secara bertahap berlalu atau pemimpin karismatik itu kehilangan karismanya lagi, tetapi gerakan yang bertahan lama, berjalan melalui suatu proses transformasi yang disebut Weber dengan istilah “rutinisasi karisma”, yang disebabkan oleh gangguan yang datang dari hal-hal praktis sehari-hari.

3)      Otoruitas Legal-Rasional

Otoritas yang didasarkan komitmen terhadap seperangkat peraturan yang diundangakan secara resmi dan diatur secara impersonal disebut Weber dengan istilah otoritas legal-rasional dan erat kaitannya dengan rasionalitas instrumental. Orang yang sedang melaksanakan otoritas legal-rasional adalah karena dia memiliki suatu posisi sosial yang menurut peraturan yang sah dia definisikan sebagai memiliki posisi otoritas. Bawahan tunduk pada otoritas karena posisi yang mereka miliki itu didefinisikan menurut aturan sebagai yang harus tunduk dalam bidang-bidang tertentu. Seleksi terhadap orang-orang untuk menduduki posisi otoritas itu atau posisi bawahan juga diatur secara eksplisit oleh peraturan yang secara resmi aadalah sah.

c)      Bentuk organisasi Birokratis

Otoritas legal-rasional diwujudkan dalam organisasi birokratis. Analisa Weber yang sangat terkenal mengenai organisasi birokratis berbeda dengan sikap yang umumnya terdapat dimasa kini yang memusatkan perhatiannya pada birokrasi yang tidak efisien, boros, dan nampaknya tidak rasional lagi.

Sebagian analisa Weber mengenai birokrasi mencakup karekteristik-kareteristik yang istimewa, yang dilihatnya sebagai tipe ideal. Administrasi birokrasi pada dasarnya terdiri dari penerapan peraturan-peraturan umum terus-menerus secara rutin terhadap hal-hal khusus oleh para pegawai yang bekerja menurut kemampuan dan wewenang resminya, dan yang menggunakan otoritas untuk tujuan ini serta sumber-sumber lainnya serta sumber-sumber lainnya yang secara khusus diperuntukan bagi tujuan ini, dengan suatu catatan mangenai apa yang harus dibuat. Efisiensi organisasi ini memiliki cara yang sistematis menghubungkan kepentingan individu dan tenaga pendorong dengan pelaksanaan fungsi-fungsi organisasi.

Weber mengadakan pembedaan yang kontras antara pegawai birokrasi penuh dengan pelaksanaan tugas organisasi yang terus-menurus serta sistematis, dan mereka yang posisinya hanyalah part-time, honorer atau sukarela saja. Alasan lain mengapa organisasi birokratis itu sangat efisien adalah karena adanya pemisahan yang tegas dan sistematis antara apa yang bersifat pribadi seperti emosi, perasaan, hubungan sosial pribadi dan apa yang birokratis. Walaupun suatu organisasi birokratis bisa memperlihatkan tingkat rasionalitas dan daya ramal yang tinggi, tidak berarti setiap pegawai dalam organisasi itu akan harus sadar bagaimana semua elemen yang berbeda-beda dalam organisasi itu saling berhubungan untuk membentuk suatu sistem yang rasional.

Weber mencampurbaurkan perasaan-perasaan dengan dominasi organisasi birokrasi yang bertambah besar, dan tidak melihat efisiensi dari organisasi yang semakin bertambah itu menghasilkan kebahagiaan manusia yang lebih besar atau membawa kamajuan yang jelas ke suatu bentuk masyarakat yang utopis. Pertumbuhan dalam bentuk organisasi dan pengawasan yang semakin ketat serta efisiensi yang mungkin dapat dibuat oleh birokrasi memperlihatkan satu jenis kemajuan tertentu, namun membutuhkan suatu korban yang bersifat psikologis atau emosional. Dalam mengembangkan dan meningkatkan bentuk organisasi birokratis, orang membangun bagi dirinya suatu “kandang besi” dimana pada suatu saat mereka sadar bahwa mereka tidak bisa keluar lagi dari situ. Satu-satunya jalan keluar yang dibayangkan Weber adalah impian kosongnya bahwa mungkin kelak muncul seorang pemimpin karismatik yang akan membuat dobrakan dari cengkraman mesin birokrtatis yang tanpa jiwa itu, dan memberi tempat kembali pada perasaan dan cita-cita manusia.

d)      Tipe-tipe otoritas campuran

Karena ketiga pola hubungan otoritas yang berbeda itu adalah tipe-tipe ideal, kita tidak boleh mengharapkan salah satu diantaranya akan nampak dalam bentuknya yang murni secara empirik. Sebaliknya dalam banyak hal, hubungan otoritas dalam kehidupan yang riil cenderung mencerminkan tingkat-tingkat yang berbeda dari ketiga tipe sebelumnya. Dalam tipe ini kedudukan posisi birokrasi saja hanya memberikan suatu dasar minimal dalam mempengaruhi orang lain. Pemimpin yang efektif adalah yang mampu menggunakan dasar ini dengan mutu apa saja yang dimilikinya untuk membangkitkan rasa setia dan patuh pada para pengikutnya.

Selain pengaruh karismatik, organisasi birokratis banyak menggunakan dukungan yang terdapat dalam tradisi. Dari tingkat yang paling atas sampai yang paling bawah, keputusan dibuat dan usaha untuk mempengaruhi itu dibenarkan berdasarkan hal-hal yang terjadi

V.                ORIENTASI AGAMA, POLA MOTIVASI DAN RASIONALISASI

Kecenderungan yang sama terhadap rasionalisasi juga dirangsang oleh perkembangan ptotestanisme. Etika protestan mencerminkan dan memperbesar kecenderungan bertambahnya rasionalitas, dan yang lebih penting lagi memperlihatkan peran yang penting dimana ide-ide agama berperan dalam meningkatkan perubahan sosial, lewat tulisannya bermaksud memperbaiki interprestasi materialis yang berat sebelah dalam pandangan Marx mengenai sejarah dan khususnya mengenai sistem kapitalis.

a)      Weber dan Marx mengenai pengaruh ide agama

Menurut marx, perjuangan kelas merupakan kunci untuk mengerti perubahan sejarah serta tarnsisi dari satu tipe ke tipe struktur sosial lainnya. Dunia kebudayaan, khususnya nilai sosial, norma, kepercayaan, cita-cita, dan pandangan hidup hanyalah mencerminkan kondisi-kondisi meteril ini. Ideal-ideal hanya mempunyai pengaruhnya sendiri yang terbatas setiap perilaku manusia atau struktur sosial. Jadi dalam suatu periode yang stabil, apabila kesadaran kelas itu rendah tingkatnya, maka agama dilihat sebagai “candu bagi manusia”. Perubahan revolusioner kemudian menuntut ilusi dan agama itu dihancurkan, demikian pandangan marx.

Weber mengakui pentingnya kondisi meteril dan posisi kelas ekonomi dalam mempengaruhi kepercayaan, nilai dan perilaku manusia. Sebenarnya weber memperluas perspektif Marx mengenai stratifikasi, namun weber berpendapat bahwa teori Marx terlalu berat sebelah, yang hanya pengaruh ekonomi dan materi, serta menyangkal bahwa ide-ide, bahkan ide-ide agama dapat mempunyai pengaruh yang independen sifatnya terhadap perilaku manusia. Weber menekankan bahwa orang mempunyai kepentingan ideal dan juga materil. Kepentingan ideal dapat mempengaruhi motivasi manusia secara independen, kendati kadang-kadang bertentangan dengan kepentingan materiilnya.

b)      Kepercayaan protestan dan perkembangan kapitalisme

Tesis utama Weber adalah bahwa aspek-aspek tertentu dalam etika protestan merupakan perangsang yang kuat dalam meningkatkan pertumbuhan sistem ekonomi kapitalis pada tahap-tahap pembentukannya. Tesis Weber ini telah ditanggapi dalam banyak buku baik ada yang pro maupun kontra tentang konsep elective affinity. Konsep ini berkaitan dengan kesesuaian logis dan konsistensi psikologis dimana keduanya saling mendukung dalam arti bahwa ada elective affinity etika protestan dan semangat kapitalisme, berarti bahwa jenis motivasi yang timbul karna menerima kepercayaan itu dan tuntutan etis protetanisme membentuk merangsang perilaku yang dibutuhkan atas lahirnya kapitalisme borjuis modern.

Etika protestan memberikan tekanan pada usaha menghindari kamalasan dan kenikmatan semaunya, dan menekankan karajinan dalam melaksanakan tugas dalam segi kehidupan, khususnya dalam pekerjaan dan kegiatan ekonomi pada umumnya. Juga perkembangan kapitalisme modern menuntut untuk membatasi kosumsi supaya uang yang ada diinvestasi kembali dan untuk pertumbuhan modal, menuntut kesediaan untuk tunduk pada disiplin perencanaan yang sistematis untuk tujuan-tujuan dimasa mendatang, bekerja secara teratur dalam satu pekerjaannya dan sebagainya.

c)      Etika protestanisme sebagai protes terhadap kotolisisme

Bagi weber, prostestan memperlihatkan suatu orientasi agama yang besifat asketik dalam dunia yang jauh lengkap daripada agama besar apapun lainnya termasuk katolisisme. Orientasi asketik dalam dunia itu harus dimengerti sebagai sesuatu yang muncul dari kayakinan agama yang murni, yang berhubungan dengan peranan gereja yang sebenarnya dalam fungsinya sebagai perantara antara individu dan Allah. Bersama dengan sistem sacramental ini, orientasi Katolik tradisional jauh lebih bersifat luar-dunia daripada orientasi Protestan. Artinya kepercayaan dan nilai yang terdapat dalam agama Katolik menekankan perhatian individu pada kehidupan sesudah kematian dan tujuan utama hidup manusia dilihat sebagai persiapan untuk hidup sesudah kematian.

Pemimpin reformasi Protestan tidak mengilhami kaum kapitalis. Luther, Zwingli, Knox, Calvin dan lain-lain tidak merasa tertarik untuk menggairahkan kegiatan ekonomi dengan mengorbankan agama. Kepercayaan agama mereka merupakan segi yang paling penting dalam hidupnya, dan minat mereka adalah untuk memulihkan kepercayaan yang benar, yang menurut mereka sudah dirusakkan oleh gereja Katolik. Para pembaru ini percaya bahwa individu dapat menghubungi Allah secara langsung dengan percaya akan Yesus kristus dan bahwa rahmat Allah serta keselamatan ada sebagai suatu pemberian yang bebas kepada semua mereka yang memiliki kepercayaan. Karya-karya yang berhubungan dengan sakramen tidak lagi mengharuskan dan dominasi gereja sebagai suatu lembaga menjadi tergoncang.

Inilah yang dimaksud dengan pandangan bahwa protestantisme membantu menghancurkan kebiaraan namun sabaliknya mengubah seluruh dunia ini menjadi satu biara. Di gabung dengan tekanan yang kuat pada kewajiban panggilan seseorang, etika Protestan menekankan suatu gaya hidup dimana kenikmatan inderawi dan materil di kontrol dengan teliti dan sistematis dari segi apapun, orientasi ini tidak ada hubungannya dengan hedonisme, namun sebaliknya agama Protestan di saat-saat awalnya sangat sadar bahwa menuruti keinginan hawa nafsu badaniah mengalihkan perhatian orang dari kehidupan spritualnya dan merupakan ancaman terus-menerus bagi jiwa.

Secara teoritis pelaksanaan gaya hidup ini tidak ada hubungannya dengan keselamatan seseorang yang bersifat abadi, namun bagaimanapun juga Protestan mengakui ketidakpantasan serta kelemahan tubuhnya. Keselamatan adalah suatu masalah keputusan Allah yang bersifat abadi dan tidak didasarkan pada karya manusia apapun.

d)      Etika protestan dan proses sekularisasi

Terlepas dari kepercayaan tertentu yang di anut, protestantisme merupakan satu dobrakan umat terhadap tradisi. Sama halnya dengan munculnya kapitalisme membutuhkan suatu keadaan, dimana sejumlah tekanan tradisional terhadap kegiatan ekonomi itu hilang. Namun Weber menekankan bahwa ide-ide tertentu dalam protestantisme memperlihatkan suatu perubahan tradisionalisme ke suatu orientasi yang lebih rasional. Dalam semua hal ihkwal ini, agama Protestan disaat-saat awal melihat dirinya sebagai orang yang berusaha memenuhi kehendak Allah dalam kehidupan di dunia ini.

Ide-ide weber mengenai pengaruh etika Protestan tidak didasarkan pada analisa sejarah yang sistematis dan bukan untuk menelusuri perkembangan sejarah protestantisme, namun sebaliknya, dia bergerak kurang lebih diantara pelbagai cabang protestantisme di pelbagai periode dalam sejarah Protestan. Meskipun tekanan utama aliran-aliran Protestan ini berbeda-beda, namun pusat perhatiannya adalah pada masalah-masalah etis yang sama diantara mereka.

e)      Protestanisme dibandingkan dengan agama-agama dunia lainnya

Karya Weber mengenai agama-agama besar di dunia sangat bernilai bagi kita dimasa kini. Dia menganalisa agama sebagai suatu dasar utama bagi pembentukkan kelompok, status dan pelbagai tipe struktur kepemimpinan dalam kelompok agama. Dia menerima saling ketergantungan timbal balik antar kepercayaan agama dan motivasi di satu pihak dan gaya hidup serta kepentingan materil di lain pihak.

Dalam membandingkan pelbagai agama dunia dengan protestantisme, tekanannya adalah pada pengaruh sistem kepercayaan agama-agama itu terhadap pola motivasi dan tindakan dalam dunia sekuler khususnya dalam dunia ekonomi. Dalam Hinduisme, mereka dengan setia mengikuti kewajiban-kewajiban menurut kastanya dalam bidang ekonomi, tradisional dan ritual; dalam Budhisme mereka berusaha menjauhkan dirinya dari dunia untuk hidup dalam kemiskinan dan kontemplasi; pemuda Konfusian dengan rasa susila tradisional yang tinggi; nabi agama Yahudi yang mengajak orang-orangnya untuk meninggalkan dewa-dewi kaum kafir yang palsu, dan menantikan abad Mesianik; dan orang Katolik yang setia di abad pertengahan yang dengan penuh kepercayaan, melaksanakan upacara-upacara ritus yang sudah di gariskan oleh gereja dengan harapan akan memperoleh keselamatan kekal.

Weber tidak mengatakan bahwa keserakahan akan benda-benda materil muncul bersama protestantisme, dia juga tidak mengatakan bahwa Protestantisme hanyalah sebuah rasionalisasi agama saja untuk mengejar tujuan-tujuan yang berhasil di capai dalam bidang materi. Kekhasan etika Protestan adalah kemampuannya untuk mendorong tindakan jangka panjang, disiplin, sistematis dalam tugas pekerjaan sekuler sebagai suatu tugas agama.

f)       Etika kerja masyarakat modern

Terlepas dari argument pro dan kontra terhadap tesis etika Protestan Weber, issu etika kerja merupakan issu dasar dalam sosiologi masa kini. Beberapa analisa sosial mengemukakan bahwa pertumbuhan kelimpahan materi dan bertambahnya waktu senggang sangat mengancam etika kerja. Seperti spekulasi Weber sendiri mengenai masa depan dia tidak melihat suatu kemungkinan yang jelas bagi dominasi organisasi birokratis yang terus-menerus bertambah besar, dengan semangat kerja orang-orang yang bermotivasi tinggi yang muncul dari bentuk etika kerja yang bersifat sekuler yang di perkuat lagi oleh janji keberhasilan dalam bidang materi dan kemajuan karir birokratis.

Rasionalitas dan efisiensi yang terus meningkat dalam pola motivasional dan organisasional, di bayar dengan harga tinggi secara psikologi, sama halnya kalau organisasi birokratis menuntut spesialisasi maka seorang birokrat yang sangat tinggi spesialisasinya menjadi sebuah skrup saja dalam suatu mesin birokratis raksasa. Kemampuan orang seperti itu untuk mengalami dan menanggapi kehidupan sebagai seorang manusia yang utuh dirusakkan oleh sempitnya peran birokratis yang di pegangnya.

Dalam melihat biaya psikologis yang mengerikan dari etika kerja, tidak mengherankan kalau etika kerja itu kehilangan dayanya di beberapa kalangan penduduk atau kelompok secara periodik. Meskipun Weber tidak meramalkan jalan keluar apa saja yang meyakinkan dari kandang besi birokratis dengan etika kerja yang mengharuskan dan keprihatinan yang mengesampingkan efisiensi teknis namun dia mengharapkan sekali kelak seorang pemimpin karismatik akan muncul, yang mau menghidupkan kembali semangat manusia, yang mengilhami komitmen terhadap nilai yang mengatasi masalah efisiensi dan rasionalitas belaka. Jika tidak ada satu-satunya alternatif bagi beberapa orang adalah dengan mengembangkan sistem nilainya sendiri sebagai alternatif dan suatu gaya hidup yang sesuai untuk mengungkapkan penolakan mereka terhadap cengkraman yang penuh yang datang dari sistem birokratis.

 

 

 

 

Literatur :

Johnson, Doyle. P. (1998). Teori Sosiologi: Klasik dan Modern. Terj. Robert. M.Z. Lawang. Jakarta: Gramedia

Komentar