KOSMOLOGI, EVOLUSI, DAN BIOTEKNOLOGI | George L. Murphy

Sejak empat ratus tahun terakhir, ada banyak orang yang meliha adanya peperangan yang terus berlanjut di antara sains dan agama. Menyertai konsepsi yang salah ini adalah keyakinan yang meluas bahwa agama telah berada di pihak yang kalah dalam peperangan tersebut. Penting untuk mempertimbangkan alasan-alasan mengapa begitu banyak orang beranggapan bahwa agama dan penjelasannya tentang dunia telah menjadi using karena berbagai kemajuan ilmiah dan teknologi. Tantangan paling kuat yang ditimbulkan oleh kebangkitan sains modern mungkin adalah penyempitan pemahaman manusia hanya pada realitas keduniawian, mengesampingkan realitas akhir.
Menurut artikel ini ada tiga tantangan yang paling sulit : pertama, pemahaman ilmiah modern tentang alam tampaknya membuat penjelasan-penjelasan religious menjadi tidak berguna; kedua, sejarah panjang ecolusi bioorganisme tampaknya melibatkan penderitaan dan kepunahan spesies sehingga mengancam gagasan tentang Allah pencipta yang penuh kasih; dan ketiga, meningkatnya kemampuan untuk menggantikan kodrat manusia melalui teknologi genetika memicu peninjauan ulang religius tentang arti menjadi manusia dan kebutuhan untuk membangun etika yang mumpuni sebagai tanggapan terhadap kemajuan biteknologi.
Hukum Alam dan Penjelasan Religius
Tantangan pertama terhadap agama telah timbul dari keberhasilan sains dalam menjelaskan ciri-ciri dunia alamiah yang sebelumnya dijelaskan dengan mengacu pada tindakan ilahi atau penyebab-penyebab religius lainnya. Kita tidak membutuhkan penjelasan religius untuk memahami tumbuhnya tanaman pangan atau kehamilan atau fenomena alamiah lainnya yang dulunya dikaitkan dengan tindakan Allah. Tentu saja, tidak semuanya telah dijelaskan oleh sains dan mungkin pengetahuan ilmiah kita tidak akan pernah lengkap. Namun demikian, tidak memuaskan bagi sains maupun agama untuk menggunakan konsep Allah sekadar untuk menjelaskan hal-hal yang tidak kita pahami secara ilmiah.
Alam Semesta Mekanis
Hukum gravitasi Newton adalah bahwa setiap benda dalam alam semesta menarik setiap benda lainnya dengan gaya yang berbanding terbalik dengan kuadrat jarak di antara mereka dan sebanding dengan massa atau banyaknya materi dari tiap-tiap benda. Berdasarkan karya Galileo Galilesi dan cendikiawan lainnya, Newton menyatakan hukum-hukum matematik yang menggambarkan bagaimana suatu benda dari massa tertentu bergerak saat ada gaya yang mendorongnya. Kemudian, mungkinlah untuk menggambarkan dan meramalkan banyak fenomena di bumi dan di seluruh sistem tata surya.
            Ini menimbulkan pandangan tentang alam semesta sebagai sebuah mesin raksasa yang dapat bekerja selama jangka waktu yang tidak terbatas dengan cara yang dapat diramalkan. Orang mungkin percaya bahwa ada suatu Allah yang membuat mesin itu dan menjalankannya, tetapi setelah itu semuanya sudah berjalan sesuai ketentuan.
Teori Kuantum dan Ketidaktentuan
Teori tersebut, mekanika kuantum, berawal dari penelitian Max Planck tentang radiasi yang dipancarkan objek-objek yang dipanaskan. Bagaimana sebuah benda menjadi merah, kemudian merah jingga, kemudian putih seaktu suhunya meningkat, sudah tidak asing lagi. Placnk menanggalkan gagasan bahwa atom dari benda yang dipanaskan dapat memancarkan energi secara terus-menerus. Mekanika kuantum sebagai teori lengkap dikembangkan pada tahun 1920-an dalam dua cara berbeda yang segera tampak sebagai versi matematik alternative dari fomalisme tunggal yang mendasarinya. Keduanya dapat digunakan untuk menghitung hal-hal seperti frekuensi radiasi yang dipancarkan atom atau cara-cara yang dengannya partikel-partikel akan saling memencarkan satu sama lain dalam tabrakan; dan keduanya menjadi mekanika Newton sebagai suatu gambaran yang serupa dalam situasi sehari-hari.
Evolusi, Penderitaan, dan Kemurahan Hati Ilahi
Evolusi biologis telah mengakibatkan sejumlah besar pertentangan di kalangan umat beragama. Teks-teks dan keyakinan keagamaan yang menyangkut cara-cara yang dengannya Allah menciptakan dunia dapat dibaca kurang lebih secara kiasan, sehingga menampung gagasan bahwa kehidupan dalam alam semesta berkembang. Dengan kata lain, evolusi dapat dianggap sebagai metode yang digunakan Allah untuk mencipta.
Tantangan yang lainnya yang ditimbulkan sains bagi agama dengan demikian adalah sebagai berikut: jika Allah telah menciptakan manusia melalui penderitaan dan kematian berjuta-juta generasi makhluk Allah, maka kita terpaksa bertanya Allah macam apa yang kita bicarakan. Bagaimanakah karakter Allah yang mencipta melalui proses seperti seleksi alamiah? Kita mungkin takut pada Allah semacam itu, tetapi dapatkah kita menganggap sifat kasih berasal dari Allah yang akan bekerja denga cara yang tampaknya tanpa belas kasih semacam itu? Tepatnya pertanyaan-pertanyaan inilah yang telah menyebabkan banyak orang, kemungkinan besar Darwin sendiri, meragukan keberadaan, atau setidaknya keyakinan pada Allah.
Genetika, Bioteknologi, Ekologi, dan Etika
Tantangan ketiga terhadap agama berkaitan dengan etika. Kemajuan-kemajuan dalam teknologi, khususnya bioteknologi, telah memberikan kepada kita kemampuan yang belum pernah ada dalam sejarah untuk mengendalikan dan mengubah alam, bahkan hakikat manusia. Perkembangan ilmiah dan teknologi baru menimbulkan berbagai masalah etis yang baru pula. Tradisi-tradisi keagamaan dihadapkan pada tugas merisaukan hati untuk menanggapi masalah-masalah ini dari sumber-sumber yang telah ditetapkan jauh sebelum pencarian untuk mengatur urutan komposisi gen manusia dimulai. Tetapi tidak masuk akal untuk mengharapkan kode-kode moral kuno dapat memberikan kepada kita petunjuk siap pakai tentang praktek pencangkokan atau rekayasa genetika.
            Teknologi yang sama yang menawarkan penyembuhan bagi penyakit-penyakit seperti fibroris kista, penyakit Huntington, dan kanker payudara, suatu hari nanti boleh jadi memungkinkan kita membuat diri lebih pandai, lebih atletis, dan mungkin – apabila perilaku ternyata berkaitan erat dengan warisan genetika – lebih ramah dan lebih murah hati. Masyarakat macam apa yang akan kita miliki apabila kita mampu merekayasa kelas warga negara yang secara genetic “unggul”? Kemungkinan-kemungkinan ini memaksa agama mengkaji ulang pertanyaan apakah artinya menjadi manusia dan bagaimana kita menghargai kehidupan manusia.
Pandangan dari Salib
            Perkembangan gambaran ilmiah tentang dunia telah membuat beberapa orang untuk mempertanyakan nilai semua agama. Orang-orang yang dipengaruhi dengan cara ini mungkin mengambil posisi ateisme atau agnotisisme. Beberapa yang lain telah mencari pandangan yang lebih positif tentang hubungan antara sains dan agama dengan mempertimbangkan keyakinan dasar komunitas agama mereka dan pengalaman mereka sendiri. Einstein, misalnya, menyatakan keyakinannya pada panteisme yang di dalamnya alam semesta diidentifikasikan dengan Allah.
            Dalam agama-agama monoteistis, alam semesta pada akhirnya diyakini tergantung pada Allah yang tunggal. Iman Kristen adalah agama monoteistik yang berpusat pada Yesus dari Nazaret, yang mati disalib di bawah pemerintahan pejabat Romawi Pontius Pilatus, kurang lebih 2000 tahun lalu di dekat Yerusalem. Dalam kematian dan kebangkitan-Nya kita akan melihat penyataan sifat Allah paling lengkap dan juga tindakan yang dengannya Allah memulihkan hubungan semestinya antara dunia dan penciptanya. Isu-isu ini harus dipahami dari sudut apa yang disebut teolog abad ke-16 Martin Luther sebagai “teologi salib”. Ia percaya bahwa kalau kita akan benar-benar mengenal Allah, kita pertama-tama harus melihat pada Krisus di kayu salib. Teologi salib mengatakan bahwa Allah adalah, secara paradoksal, tersembunyi, bahkan saat Ia menyatakan diri-Nya.
            Menurut pendekatan ini, hal-hal yang kita amati di dunia adalah sarana yang digunakan Allah dan juga “topeng” (istilah yang dipakai Luther) yang menyembunyikan Allah dari pengamatan langsung kita. Keyakinan bahwa Allah berkarya di dunia adalah pengungkapan iman kepada Allah yang terungkap dalam salib, bukan sebuah deduksi ilmiah.
            Bagaimana evolusi harus dipandang dari sudut salib? Di sini Allah tidak dipahami sebagai dewa yang memaksa berjuta-juta generasi mengalami penderitaan dan kepunahan tanpa Ia sendiri terpengaruh oleh proses tersebut, tetapi lebih sebagai Allah yang mengambil bagian dalam proses dan ikut mengalami penderitaan dan kematian dunia. Harga dari perkembangan kehidupan telah dibayar tidak hanya oleh makhluk-makhluk Allah, tetapi juga oleh Allah sendiri. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh teologi salib adalah mengatakan bahwa Allah mendampingi dunia dalam kesengsaraan dan kematian dan dengan demikian memberikan harapan bagi kehidupan.

Komentar